Tampilkan postingan dengan label 10.Danda Vagga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 10.Danda Vagga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juli 2013

(145) Kisah Samanera Sukha

Dhammapada

  • BAB X. DANDA VAGGA – Hukuman

    (145)Pembuat saluran air mengatur jalannya air, tukang panah meluruskan anak panah, tukang kayu melengkungkan kayu, orang bajik mengendalikan dirinya sendiri. 

    Dhammapada Atthakatha :     

    (145) Kisah Samanera Sukha

    Sukha menjadi samanera pada usia 7 tahun dan ditahbiskan oleh Sariputta Thera. Pada hari kedelapan setelah menjadi samanera, ia bersama Sariputta Thera pergi berpindapatta. Ketika sedang berjalan berkeliling, mereka melihat para petani sedang mengairi sawahnya, para pemanah sedang meluruskan anak panah, dan beberapa tukang kayu sedang membuat roda pedati, dan sebagainya.

    Setelah melihat semua ini, ia bertanya kepada Sariputta Thera, apakah benda-benda mati ini dapat diarahkan ke sesuatu tujuan tertentu atau dapat dibuat menjadi sesuatu sesuai dengan keinginan seseorang. Sang Thera menjawab memang demikian. Kemudian Samanera muda merenung, jika demikian, tidak ada alasan mengapa seseorang tidak dapat mengendalikan batinnya serta melatih meditasi ketenangan dan pandangan terang (Samatha & Vipassana bhavana).

    Kemudian, ia meminta izin kepada Sariputta Thera untuk kembali ke vihara. Di sana ia masuk ke dalam kamarnya dan berlatih meditasi sendirian.
    Dewa Sakka dan para dewa membantu latihan meditasinya dengan cara menjaga suasana vihara agar tetap tenang.
    Hari itu juga, di hari kedelapan setelah ia menjadi samanera, Sukha mencapai tingkat kesucian arahat.

    Berhubungan dengan hal ini, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: "Ketika seseorang melaksanakan Dhamma dengan sungguh-sungguh, maka Sakka dan para dewa akan menolong dan melindunginya. Tathagatha sendiri telah menahan Sariputta Thera di depan pintu, sehingga ia tidak terganggu. Samanera itu, setelah melihat para petani bekerja dengan giat mengairi sawahnya, para pemanah meluruskan anak panahnya, tukang kayu membuat roda pedati dan benda lainnya, ia melatih batinnya dan melaksanakan Dhamma. Ia telah mencapai tingkat kesucian arahat."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

    "Udakaṃ hi nayanti nettikā
    usukārā namayanti tejanaṃ
    dāruṃ namayanti tacchakā
    attānaṃ damayanti subbatā."

    Pembuat saluran air mengatur jalannya air,
    tukang panah meluruskan anak panah,
    tukang kayu melengkungkan kayu,
    orang bajik mengendalikan dirinya sendiri.

    --------
    Notes :
    Kisah dan syair diatas sama dengan kisah no. 80.

    Dewa Sakka adalah raja dewa yang memimpin alam surga Tavatimsa.
    Sakka adalah pengikut Sang Buddha, dan ia adalah juga seorang Sotapanna, ia mencapai tingkat kesucian Sotapatti (maksimum 7 kali lagi dilahirkan) diceritakan dalam Sakkapanha Sutta.

    Dalam tradisi chinese, Sakka dianalogikan dengan Kaisar Langit (Tao) / Giok Tee / Yù Huáng Shangdi  / Yu Huang Dadi / Tian Gong. Atau Ti Shih Thien Cun/Shih Ti Huan Yin. 
    Di sebagian vihara-vihara di Indonesia, biasanya ada hiolo (tempat hio) di luar/halaman, yang didedikasikan kepada Thien Kung / Tian Gong.

    4 Raja Langit dari alam Catummaharajika (satu tingkat dibawah Tavatimsa) membantu dan melayani Sakka.

    Ketika pangeran Siddhartha meninggalkan kehidupan duniawi, beliau memotong rambutnya dan melemparkannya ke langit, Sakka menyambutnya dan menaruhnya di Culamani cetiya (J.i.65)

    Sakka sering menolong manusia dan hewan, juga suka mengetest orang-orang. Kalau kita ingat, beberapa kisah yang terdahulu, misalnya kisah raja burung nuri di kisah 32, kisah Suppabuddha di no 66.
    Sakka juga menolong para dewa (di alamnya atau alam yang lebih rendah) lainnya, misalnya dalam kisah 119 Anathapindika.

    Sakka membantu merawat para Arahat yang sakit, misalnya ketika Sariputta sakit, dan juga ketika Sang Buddha sakit sebelum parinibbana, ia merawat Sang Buddha, bahkan membawakan tempat kotoran (pispot) beliau.

    Sakka sering berperan sebagai penjaga moral di dunia. Ketika kejahatan marak di antara manusia, atau raja menjadi lalim, Sakka menampakkan diri dan menakuti mereka agar mereka berbuat baik. Ia membela orang baik yang melawan orang jahat, dan sering membantu mereka mencapai tujuan/cita-cita mereka. Contoh2nya dalam kisah Ambacora, Ayakūta, Udaya, Kaccāni, Kāma, Kāmanīta, Kumbha, Kelisīla, Kharaputta, Culladhanuggaha, Dhajavihetha, Bilārikosiya, Manīcora, Mahākanha, Vaka, Sarabhanga, Sarabhamiga and Sudhābhojana Jātaka.
    Sakka melindungi orang baik, mereka yang menonjol diundangnya ke surga dengan mengirim kereta dan kusirnya Matali untuk menjemput mereka (Guttila, Mandhātā, Sādhina, Nimi) beberapa lainnya diberi penghargaan yang sesuai, misalnya dalam Uraga Jātaka.

Sabtu, 27 Juli 2013

(143-144) Kisah Pilotikatissa Thera

Dhammapada

  • BAB X. DANDA VAGGA – Hukuman

    (143)Dalam dunia ini jarang ditemukan seseorang yang dapat mengendalikan diri dengan memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, yang senantiasa waspada, bagaikan seekor kuda yang terlatih baik dapat menghindari cemeti. (144)Bagaikan seekor kuda yang terlatih baik, walaupun sekali saja merasakan cambukan, segera menjadi bersemangat dan berlari cepat, demikian pula halnya dengan orang yang rajin, penuh keyakinan, memiliki sila, semangat, konsentrasi dan menyelidiki Ajaran Benar, dengan bekal pengetahuan dan tingkah laku sempurna serta memiliki kesadaran, akan segera meninggalkan penderitaan yang berat ini. 

    Dhammapada Atthakatha :    

    (143 – 144) Kisah Pilotikatissa Thera

    Suatu saat Ananda Thera melihat seorang pemuda yang berpakaian lusuh berjalan meminta makanan. Beliau merasa iba melihat pemuda tersebut, dan mengajaknya menjadi seorang samanera. Samanera muda tersebut meninggalkan pakaian dan mangkuknya pada sebuah dahan pohon. Ketika ditahbis menjadi seorang bhikkhu ia dikenal dengan nama Pilotikatissa.

    Sebagai seorang bhikkhu, ia tidak perlu kuatir kekurangan makanan dan pakaian. Namun kadang-kadang  ia merasa tidak bahagia dalam kehidupannya sebagai bhikkhu dan berkeinginan kembali hidup sebagai umat biasa. Ketika perasaan ini timbul, ia pergi ke pohon dimana ia meninggalkan pakaian dan mangkuknya.

    Ketika sampai di bawah pohon itu, ia bertanya kepada dirinya sendiri,  "Oh, orang tak tahu malu, apakah engkau mau meninggalkan tempat dimana kamu cukup makan dan cukup pakaian? Apakah engkau masih mau mengenakan pakaian buruk ini dan pergi meminta-minta dengan mangkuk tua ini di tanganmu?" Demikianlah ia  memarahi dirinya sendiri, dan setelah dirinya tenang, ia kembali ke vihara.

    Setelah dua atau tiga hari kemudian, keinginan untuk meninggalkan kehidupan bhikkhu muncul kembali, dan ia pun kembali ke pohon itu dan bertanya pada dirinya sendiri perihal pertanyaan yang sama. Seperti kejadian pertama, ia memarahi dirinya sendiri dan setelah menenangkan diri, ia kembali ke vihara. Kejadian ini terulang beberapa kali.

    Ketika bhikkhu-bhikkhu lain menanyakan kepadanya, mengapa ia sering pergi ke pohon tersebut, ia memberitahu mereka bahwa ia pergi menemui gurunya (dianggap sebagai "guru", karena membuat ia malu dan kembali ke jalan yang benar).

    Dengan menggunakan pakaian dan mangkuk tuanya sebagai objek meditasi, ia menyadari hakikat dari corak kenyataan kelompok kehidupan/khanda (sebagai tidak kekal/anicca, tidak memuaskan/dukkha, tidak ada aku yang kekal/anatta), akhirnya ia mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian ia tidak lagi pergi ke pohon itu.

    Melihat hal itu, bhikkhu-bhikkhu lain bertanya kepada Pilotikatissa: "Mengapa engkau tidak pergi menemui gurumu lagi?"

    Kepada mereka ia menjawab: "Ketika saya membutuhkan, saya pergi kepadanya; tapi sekarang saya tidak mempunyai kebutuhan lagi untuk pergi kepadanya."

    Setelah mendengar jawaban tersebut, bhikkhu-bhikkhu itu membawa Pilotikatissa menghadap Sang Buddha. Ketika sampai disana, mereka memberi hormat kepada Sang Buddha dan berkata, "Bhante, bhikkhu ini mengaku telah mencapai tingkat kesucian arahat, ia pasti telah berbohong."

    Akan tetapi Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, Pilotikatissa tidak berbohong, ia berkata benar. Walaupun dulu ia mempunyai hubungan baik dengan gurunya, namun saat ini ia tidak mempunyai hubungan lagi dengan gurunya. Pilotikatissa Thera telah memiliki pengertian membedakan penyebab yang benar dan yang salah serta menyadari corak kenyataan segala sesuatu sebagaimana apa adanya. Sekarang ia telah mencapai tingkat kesucian arahat, oleh karena itu ia tak ada hubungan lagi dengan gurunya."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

    "Hirīnisedho puriso koci lokasmi vijjati
    yo nindaṃ appabodhati asso bhadro kasām iva.

    Asso yathā bhadro kasāniviṭṭho
    ātāpino saṃvegino bhavātha

    saddhāya sīlena ca viriyena ca
    samādhinā dhammavinicchayena ca
    sampannavijjācaraṇā patissatā
    pahassatha dukkham idaṃ anappakaṃ."

    Dalam dunia ini jarang ditemukan seseorang yang dapat mengendalikan diri dengan memiliki hiri (rasa malu untuk berbuat jahat),
    yang senantiasa waspada, bagaikan seekor kuda yang terlatih baik dapat menghindari cemeti.

    Bagaikan seekor kuda yang terlatih baik,
    walaupun sekali saja merasakan cambukan,
    segera menjadi bersemangat dan berlari cepat,
    demikian pula halnya dengan orang yang rajin, penuh keyakinan, memiliki sila, semangat, konsentrasi dan menyelidiki Ajaran Benar,
    dengan bekal pengetahuan dan tingkah laku sempurna serta memiliki kesadaran,
    akan segera meninggalkan penderitaan yang berat ini.

    -------------
    Notes:
    Walaupun pada awalnya Pilotikatissa Thera menjadi bhikkhu dengan motivasi yang salah (mendapat makan cukup dan pakaian yang pantas), tetapi akhirnya ia sadar dan dapat menggunakan simbol kemelekatannya (berupa ingatan atas pakaian dan mangkuk lamanya) sebagai obyek meditasi dan berhasil mencapai arahat.

(142) Kisah Menteri Santati)

Dhammapada

BAB X. DANDA VAGGA – Hukuman

(142)Walaupun seseorang berpakaian penuh hiasan,tetapi ia dapat menjaga ketenangan pikirannya, damai, mantap, terkendali,mantap dalam Jalan, suci murni dan tidak lagi menyakiti makhluk lain,sesungguhnya ia adalah seorang brahmana, seorang samana, seorang bhikkhu. 

Dhammapada Atthakatha :   

(142) Kisah Menteri Santati

Suatu ketika Menteri Santati kembali setelah berhasil menumpas pemberontak di perbatasan. Raja Pasenadi sangat senang kepadanya, memberi kekayaan dan kegemilangan kepada menterinya serta mengadakan pesta selama 7 hari dengan para gadis penari. Selama tujuh hari menteri itu bersenang-senang, bermabuk-mabukan, dan bergembira dengan gadis-gadis penari muda belia.

Pada hari ketujuh, dengan menunggang gajah kerajaan, dia pergi mandi ke tepi sungai. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Sang Buddha yang sedang berpindapatta. Santati membungkukkan badannya sebagai tanda memberi hormat kepada Sang Buddha.

Sang Buddha tersenyum, dan Ananda bertanya mengapa Sang Buddha tersenyum. Lalu Sang Buddha berkata, "Ananda, menteri ini akan menemuiku hari ini, dan setelah aku memberikan sedikit pelajaran, dia akan mencapai tingkat kesucian arahat dan kemudian dia akan merealisasi parinibbana."

Pesta Menteri Santati berlangsung sepanjang hari di tepi sungai, mandi, makan minum dan menyenangkan hati mereka. Pada sore hari pestanya berlangsung di taman, minum lebih banyak dan menari dengan gadis penari.

Gadis penari mencoba untuk menyenangkan menteri, selama seminggu gadis penari melakukan diet makan agar tampak menarik. Akan tetapi pada saat menari, dia terserang kejang-kejang dan ambruk, dan dia meninggal dunia dengan mata dan mulut yang terbuka. Menteri itu sangat terkejut dan sungguh sedih.

Dalam penderitaannya itu, ia mencoba berpikir apa yang dapat memberi ketenangan dan teringat kepada Sang Buddha. Dia pergi menemui Sang Buddha bersama dengan pengikut-pengikutnya, dan menceritakan duka cita dan kesedihan yang mereka alami karena kematian gadis penarinya yang begitu tiba-tiba.

Dia berkata, "Bhante, tolong hilangkan penderitaanku, jadilah pelindungku, berikan ketenangan di hatiku."

Kepadanya Sang Budha berkata, “Tenanglah anakku, engkau telah datang kepada seseorang yang dapat menolongmu, seseorang yang dapat menghiburmu dan menjadi pelindungmu. Air mata yang telah engkau tumpahkan karena kematian penari itu dalam seluruh lingkaran samsara, lebih banyak jumlahnya daripada air di samudera."

Sang Buddha kemudian mengucapkan syair ini:

"Selama ini, terdapat dalam dirimu kemelekatan (upadana) yang disebabkan tanha (nafsu keinginan); lenyapkanlah hal itu.
Pada saat mendatang, janganlah bawa kemelekatan dalam dirimu. Jangan pula menempatkan kemelekatan terhadap apapun pada saat sekarang; dengan tidak memiliki kemelekatan, tanha  dan kebencian akan lenyap dalam dirimu, dan engkau akan merealisasi "Kebebasan Mutlak" (Nibbana)."

Setelah mendengar syair itu, menteri mencapai tingkat kesucian arahat. Dan menyadari bahwa usia kehidupannya akan berakhir, Santati berkata kepada Sang Buddha, "Bhante, sekarang izinkanlah saya merealisasi "Kebebasan Akhir" (parinibbana), karena saatnya telah tiba."

Sang Buddha merestuinya, kemudian Santati terbang setinggi tujuh pohon palem di angkasa dan di sana Santati bermeditasi dengan objek perwujudan api (tejo kasina), akhirnya beliau meninggal dunia, merealisasi "Kebebasan Akhir" (parinibbana). Tubuhnya berkobar, darahnya dan daging menguap terbakar, dan tulangnya menjadi relik (dhatu) beterbangan di angkasa dan terjatuh pada sehelai kain bersih yang telah direntangkan oleh para bhikkhu atas petunjuk Sang Buddha.

Pada saat pertemuan, para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, "Bhante, Menteri Santati telah merealisasi "Kebebasan Akhir" (parinibbana) dengan mengenakan pakaian kebesaran menteri, apakah dia seorang samana atau brahmana?"

Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, anakku dapat disebut dua-duanya; seorang samana atau pun seorang brahmana."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Alaṃkato ce pi samaṃ careyya
santo danto niyato brahmacārī
sabbesu bhūtesu nidhāya daṇḍaṃ
so brāhmaṇo so samaṇo sa bhikkhu."

Walaupun seseorang berpakaian penuh hiasan,
tetapi ia dapat menjaga ketenangan pikirannya, damai, mantap, terkendali,
mantap dalam Jalan, suci murni dan tidak lagi menyakiti makhluk lain,
sesungguhnya ia adalah seorang brahmana, seorang samana, seorang bhikkhu.

---------

Notes :

Banyak orang bertanya, dapatkah umam awam mencapai tingkat kesucian Arahat? Ya, dapat. Contohnya Menteri Santati ini. Ketika mencapai kearahatan, ia masih sebagai seorang umat awam.

Ada dua hal yang terjadi ketika umat awam mencapai kearahatan :
1. dia masuk menjadi anggota Sangha baik sebagai bhikkhu/bhikkhuni ataupun samanera. Jika beliau tidak menjadi anggota Sangha, maka ;
2. tak lama kemudian beliau akan meninggal dunia, merealisasikan anupadisesa Nibbana (Nibbana tanpa sisa).

Hal ini dikarenakan tidak mungkin lagi seorang arahat menjalani kehidupan duniawi seperti umat awam.  Cara pandang, pemikiran, sikap dll, sudah tidak cocok lagi.

Mereka yang mencapai kearahatan sebagai umat awam lalu baru kemudian masuk menjadi anggota Sangha, contohnya : Yasa (bhikkhu keenam), Jambuka (kisah 70), pemain akrobat Uggasena (kisah 348), Ratu Khema (kisah 347), Samanera dari Kosambi (kisah 96), Aggidatta dan semua pengikutnya (kisah 188-192), Kaludayi dan 9 menteri plus 9000 pengiring yang diutus Raja Suddhodana untuk mengundang Sang Buddha kembali ke Kapilavastu.

Mereka yang mencapai kearahatan sebagai umat awam, tidak menjadi anggota sangha dan segera meninggal dunia :
Menteri Santati (kisah no. 142), Bahiya (kisah no.101), Brahmana dan isterinya (dua orang di kisah no. 225), dan juga Raja Suddhodana ayah pangeran Siddhartha yang meninggal segera setelah mencapai arahat (ThigA.141).

Tidak ada arahat yang hidup terus sebagai umat perumah tangga. Yang tercatat masih tetap hidup berumah tangga, maksimum hanya yang mencapai tingkat kesucian Anagami.

(141) Kisah Bhikkhu Bahubhandika

Dhammapada

  • BAB X. DANDA VAGGA – Hukuman

    (141)Bukan dengan cara telanjang, rambut dijalin, badan kotor berlumpur, berpuasa, berbaring di tanah, melumuri tubuh dengan debu, ataupun berjongkok di atas tumit,seseorang yang belum bebas dari keragu-raguan dapat menyucikan diri. 

    Dhammapada Atthakatha :  

    (141) Kisah Bhikkhu Bahubhandika

    Seorang pria yang kaya di Savatthi setelah kematian istrinya mengambil keputusan untuk menjadi seorang bhikkhu. Sebelum dia menjadi bhikkhu, dia mendirikan sebuah vihara, termasuk dapur dan ruang penyimpanan. Dia juga membawa perabotan, beras, minyak, mentega, dan berbagai kebutuhan sehari-harinya. Apa pun yang dia kehendaki, pelayan-pelayan akan memenuhinya. Jadi meskipun dia hidup sebagai bhikkhu, dia hidup dengan berlebihan dan memiliki berbagai macam harta sehingga beliau dikenal dengan nama "Bahubhandika".

    Suatu hari bhikkhu-bhikkhu lain membawanya menghadap Sang Buddha dan kemudian menceritakan kehidupan Bhikkhu Bahubhandikka yang penuh dengan kemewahan sebagai mana layaknya kehidupan orang kaya.

    Sang Buddha mengatakan kepada Bahubhandika, "Anakku, Aku mengajarkan tentang kehidupan yang sederhana, mengapa engkau membawa begitu banyak harta milikmu?"

    Ketika mendapat teguran sesedikit ini, dia marah dan berkata, "Bhante, aku akan hidup sebagai mana kehendak-Mu." Kemudian dia melepas dan membuang jubah atasnya.

    Melihat hal tersebut, Sang Buddha mengatakan kepada Bahubhandika, "Anakku, pada kehidupan yang lampau engkau adalah raksasa, meskipun sebagai raksasa tetapi engkau memiliki rasa malu berbuat jahat (hiri) dan rasa takut berbuat jahat (otappa). Akan tetapi sekarang engkau menjadi bhikkhu dalam ajaran-Ku, mengapa engkau membuang semua rasa malu dan takut berbuat jahat itu?"

    Mendengar kata-kata itu, dia menjadi sadar akan kesalahannya. Hiri dan ottapanya muncul kembali. Ia memberi hormat kepada Sang Buddha serta meminta maaf.

    Kemudian Sang Buddha berkata, "Berdiri di situ tanpa jubah atas adalah tidak pantas, membuang jubah tidak membuat engkau menjadi bhikkhu yang sederhana, seorang bhikkhu juga harus membuang keragu-raguannya."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

    "Na naggacariyā na jaṭā na paṃkā
    nānāsakā thaṇḍilasāyikā vā
    rajo va jallaṃ ukkuṭikappadhānaṃ
    sodhenti maccaṃ avitiṇṇakaṃkhaṃ."

    Bukan dengan cara telanjang, rambut dijalin, badan kotor berlumpur, berpuasa, berbaring di tanah, melumuri tubuh dengan debu, ataupun berjongkok di atas tumit,
    seseorang yang belum bebas dari keragu-raguan dapat menyucikan diri.*

    Banyak orang pada waktu itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.


    -------
    Notes:

    *Cara-cara (telanjang, rambut dijalin dll) diatas merujuk kepada praktek-praktek yang tidak bermanfaat yang dilakukan oleh banyak petapa-petapa di jaman itu. Melakukan itu semua tidaklah membawa kepada kesucian, sama seperti tindakan membuang jubah seperti yang dilakukan oleh Bahubandhika. Yang harus dibuang adalah keragu-raguan.
    Seperti yang kita ketahui salah satu dari 3 belenggu yang harus dipatahkan seorang sotapatti, adalah keragu-raguan. (lihat notes kisah 122).

    Sang Buddha menyebut hiri dan ottappa sebagai dua pelindung dunia.
    Hiri adalah rasa malu berbuat jahat/tidak baik. Ottappa adalah rasa takut berbuat jahat dan akibat perbuatan jahat.
    Jika banyak orang tidak memiliki hiri dan ottappa, dunia menjadi kacau dan tiada rasa tentram, kejahatan makin marak.

    Hiri yang dimaksud disini adalah malu berbuat yang tidak baik. Jangan salah mengartikan dan menjadikannya negatif. Malulah berbuat yang tidak baik, tetapi bukan malu berbicara di muka umum, malu bertanya, malu karena tidak memakai barang-barang bermerek, dll.

    Ottapa bukan berarti menjadi pengecut dan penakut. Sebenarnya terjemahan menggunakan kata ‘takut’ agak tidak tepat, tetapi memang tidak ada kata lain yang bisa digunakan. Terjemahan bhs Inggris ada yang menggunakan ‘fear’, ‘concern’, tetapi itupun masih kurang tepat. Jadi memang sebaiknya tetap memakai kata ottappa.

    Seseorang yang takut akan panasnya api, tidak akan menyentuh api yang menyala, tetapi laron yang tidak menyadari bahayanya api, tertarik kepada sinar terang api itu dan akan terbakar. Hal ini sama seperti orang yang tidak memiliki ottappa, ia melakukan kejahatan dan akan menderita akibat perbuatannya itu.

    Kita harus memelihara dan mengembangkan hiri dan ottappa ini, jangan mengacuhkan hiri dan ottapa. Pada saat pertama kali seseorang melakukan kejahatan, pasti ada rasa hiri dan ottappa muncul. Tetapi jika kemudian hiri dan ottappa itu ditekan, dibuang, atau diabaikan, maka lama-kelamaan hatinya makin kebal dan kejahatan yang dibuat akan bertambah banyak.

(137-140) Kisah Maha Moggallana Thera

Dhammapada

  • BAB X. DANDA VAGGA – Hukuman

    (137) Seseorang yang menghukum mereka yang tidak patut dihukum dan tidak bersalah, akan segera memperoleh salah satu di antara sepuluh keadaan berikut:

     (138) Ia akan mengalami penderitaan hebat, kecelakaan, luka berat, sakit berat, atau bahkan hilang ingatan. (139) Atau ditindak oleh raja, atau mendapat tuduhan yang berat, atau kehilangan sanak saudara, atau harta kekayaannya habis. (140) Atau rumahnya musnah terbakar, dan setelah tubuhnya hancur, orang bodoh ini akan terlahir kembali di alam neraka. 

    Dhammapada Atthakatha :  

    (137 – 140) Kisah Maha Moggallana Thera

    Suatu saat petapa Nigantaha merencanakan untuk membunuh Maha Moggallana Thera, mereka berpikir dengan menghabisi Maha Moggalan Thera, kemashuran dan keberuntungan Sang Buddha akan menghilang juga. Mereka menyewa para perampok untuk membunuh Maha Moggallana yang kala itu berdiam di Kalasila dekat Rajagaha.

    Perampok itu mengepung vihara tempat Maha Moggallana Thera berdiam, tetapi Maha Moggallana dengan kemampuan batin luar biasanya dapat menghilang, sehingga mereka tidak dapat menangkap Maha Moggallana dalam waktu dua bulan.

    Ketika para perampok kembali mengepung vihara pada bulan ketiga, Maha Moggallana Thera mengetahui bahwa ia harus menerima akibat perbuatan (kamma) jahat yang dilakukannya pada salah satu kehidupan lampaunya, maka beliau tidak menggunakan kelebihan batinnya, sehingga para perampok berhasil menangkap dan menganiayanya dengan kejam. Setelah itu tubuhnya dibuang ke semak-semak, karena dianggap telah menjadi mayat.

    Dengan kekuatan iddhi / kekuatan batinnya, Maha Moggallana masih dapat mempertahankan kehidupannya untuk berpamitan menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana. Tetapi Maha Moggallana juga menyadari akibat dari penganiayaan yang dideritanya, beliau tidak akan dapat hidup lebih lama lagi. Maka beliau memberitahu Sang Buddha bahwa beliau akan segera parinibbana* di Kalasila.

    Sang Buddha kemudian menganjurkan agar beliau membabarkan Dhamma terlebih dahulu sebelum parinibbana. Maha Moggallana membabarkan Dhamma kepada para bhikkhu, setelah itu bersujud (namaskara) kepada Sang Buddha sebanyak tujuh kali.

    Berita wafatnya Maha Moggallana Thera ditangan para perampok cepat sekali menyebar. Raja Ajatasattu menyuruh orang-orangnya agar menyelidiki hal ini, mereka berhasil menangkap para perampok dan menghukum mati dengan cara membakarnya.

    Para bhikkhu mendengar wafatnya Maha Moggallana Thera sangat sedih dan tidak mengerti mengapa orang seperti beliau meninggal dunia di tangan para perampok.

    Kepada mereka Sang Buddha kemudian mengatakan, "Bhikkhu, jika kamu hanya mempertimbangkan kehidupan saat ini dimana beliau hidup dengan kemuliaan, kelihatannya memang beliau tidak sepantasnya meninggal dengan cara demikian. Akan tetapi pada kehidupan yang lampau ia telah melakukan kejahatan besar terhadap kedua orang tuanya yang buta. Pada awalnya beliau adalah seorang anak berbakti, tetapi setelah ia menikah, istrinya membuat masalah (karena tidak mau mengurus kedua mertuanya), istrinya mendorong agar ia berpisah dengan orang tuanya. Kemudian ia membawa kedua orang tuanya yang buta pergi ke hutan dengan pedati, di sana ia membunuh kedua orang tuanya dengan memukuli mereka. Sebelumnya, dengan tipu muslihat ia meyakinkan kedua orang tuanya, seolah-olah mereka dipukuli oleh penjahat. Untuk perbuatan jahat yang dilakukannya ini, ia telah menderita di alam neraka untuk waktu lama, dan pada kehidupan saat ini beliau harus mengalami kematian di tangan perampok. Tentunya dengan melakukan perbuatan jahat tersebut, seseorang pasti akan menderita karenanya."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

    "Yo daṇḍena adaṇḍesu
    appaduṭṭhesu dussati
    dasannam aññataraṃ ṭhānaṃ
    khippam eva nigacchati.

    Vedanaṃ pharusaṃ jāniṃ sarīrassa ca bhedanaṃ
    garukaṃ vāpi ābādhaṃ cittakkhepaṃ va pāpuṇe.

    Rājato va upasaggaṃ
    abbhakkhānaṃ va dāruṇaṃ
    parikkhayaṃ va ñātinaṃ
    bhogānaṃ va pabhaṅguṇaṃ.

    Athav’ assa agārāni aggī ḍahati pāvako,
    kāyassa bhedā duppañño nirayaṃ sôpapajjati."

    Seseorang yang menghukum mereka yang tidak patut dihukum dan tidak bersalah,
    akan segera memperoleh salah satu di antara sepuluh keadaan berikut:

    Ia akan mengalami penderitaan hebat, kecelakaan, luka berat, sakit berat, atau bahkan hilang ingatan.

    Atau ditindak oleh raja, atau mendapat tuduhan yang berat,
    atau kehilangan sanak saudara, atau harta kekayaannya habis.

    Atau rumahnya musnah terbakar, dan setelah tubuhnya hancur,
    orang bodoh ini akan terlahir kembali di alam neraka.

    -------
    Notes :
    Sumber lain ada yang menyebutkan bahwa Maha Moggalana Thera tiba-tiba kehilangan kekuatan batinnya sehingga tidak dapat lagi menghilang pada saat kawanan perampok itu datang untuk ketiga kalinya, sementara dalam kisah diatas, dikatakan bahwa beliau sengaja tidak menggunakan kekuatan batinnya. Tetapi apapun alasan sebenarnya, jika memang sudah waktunya karma buruk berbuah, siapapun tak dapat menghindar.
    Untungnya, dengan kekuatan batinnya beliau masih dapat bertahan hidup, membenahi tubuhnya yang hancur lebur, dan terbang ke tempat Sang Buddha untuk mohon pamit. Di sumber lain dikatakan beliau dipukuli sampai tulang-tulangnya hancur.

    Dalam kitab komentar disebutkan bahwa Maha Moggalana Thera menghindar untuk yang pertama dan kedua kali, karena beliau ingin memberi kesempatan kepada kawanan perampok itu untuk berubah pikiran sehingga dapat terhindar dari karma buruk membunuh seorang arahat.

    * Ketika seseorang mencapai tingkat kesucian arahat, ia disebut telah mencapai nibbana. Ketika arahat ini meninggal dunia, ia disebut parinibbana. Parinibbana disebut juga An-upadisesa-Nibbana, artinya nibbana tanpa sisa, sisa disini maksudnya adalah jasmaninya.
    Parinibbana = meninggal dunia, tetapi tidak semua orang yang meninggal dunia dapat disebut = parinibbana.
    Tidak semua bhikkhu yang meninggal dapat disebut parinibbana. Banyak orang di Indonesia sering salah kaprah, ketika ada bhikkhu/bhikshu meninggal dunia, lalu disebut bhikkhu/bhikshu A telah parinibbana, hal ini mengaburkan arti dari parinibbana tersebut, seolah-olah parinibbana itu adalah istilah buddhist untuk meninggal dunia.

    Mengenai isteri yang mengadu domba suami dan mertuanya, semoga kisah ini tidak membuat orang menganggap bahwa semua isteri pasti seperti itu. Banyak pula kisah dimana justru mertualah yang menjadi sumber masalah dan mengadu domba.
    Sesungguhnya masalah bisa timbul dari kedua pihak, tergantung dari kapasitas kebijaksanaan kedua belah pihak. Ada isteri yang kebijaksanaannya kurang, ada pula orang tua / mertua yang kebijaksanaannya kurang. Jika timbul permasalahan antara menantu dan mertua, sebagai orang yang bijaksana, sesungguhnya kita harus memeriksa permasalahannya secara obyektif, mencari bukti-bukti dengan kepala dingin dan tanpa memihak. Jaman sekarang ada alat perekam dan kamera tersembunyi, jadi seharusnya tidak sulit mencari bukti-bukti.

    Apakah mereka bisa dipercaya kata-katanya 100%? Apakah mereka suka berbicara X kepada A tetapi ketika bicara kepada B ganti jadi Y?
    Apakah kita sungguh-sungguh mengenal sifat orangtua/pasangan kita?
    Ada anak yang tidak percaya bahwa orangtuanya bisa melakukan hal-hal tertentu, karena selama ini yang dilihatnya adalah sikap orang tua yang sangat menyayangi dan mengurus keperluan dirinya. Tetapi sadarkah kita ini adalah satu aspek saja ?
    Ini kisah nyata lho, ada ibu yang suka mengambil tanpa ijin barang-barang dan bahan makanan dari rumah anak/menantunya, sudah sering diberitahu, kalau butuh sesuatu bilang saja, agar nanti bisa dibelikan lebih, tetapi si ibu selalu menolak, dan barang-barang tetap hilang, ketika mau dipakai sudah tidak ada. Ketika ketahuan dan dikonfrontasi, si ibu berkelit mengatakan barang itu sudah kadaluwarsa, padahal kenyataannya belum kadaluwarsa.
    Nah, hal ini kalau diberitahukan kepada si anak, kemungkinan besar si anak tidak akan percaya, dan menuduh isterinya mengada-ada.

    Dan yang paling penting, ketahuilah sifat dan karakter pasangan anda sebelum menikah.
    Itulah gunanya berpacaran; mengenal sifat dan karakter asli calon pasangan hidup, bukan hanya sekadar asal pergi bersenang-senang dengan pacar .

(136) Kisah Peta Ular

Dhammapada

  • BAB X. DANDA VAGGA – Hukuman

    (136)Apabila orang bodoh melakukan kejahatan, ia tak mengerti akan akibat perbuatannya.Orang bodoh akan tersiksa oleh perbuatannya sendiri, seperti orang yang terbakar oleh api.


    Dhammapada Atthakatha :  

    (136) Kisah Peta Ular

    Suatu ketika, Maha Moggallana Thera pergi ke bukit Gijjhakuta bersama Lakkhana Thera, Moggallana Thera melihat peta (setan lapar) berwujud ular dan ia tersenyum, tetapi tidak mengatakan apapun. Ketika mereka kembali ke Vihara Jetavana, Maha Moggallana Thera bercerita kepada Lakkhana Thera di hadapan Sang Buddha perihal makhluk halus yang memiliki tubuh panjang dan dikelilingi oleh api tersebut.

    Sang Buddha kemudian mengatakan, setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna, Beliau juga telah bertemu dengan bermacam peta, tetapi Beliau tidak memberitahukan keberadaan makhluk halus itu kepada penduduk karena mungkin tidak mempercayainya, dan mereka bisa beranggapan keliru terhadap Sang Buddha. Demi kasih sayangnya terhadap semua makhluk hidup, maka Sang Buddha berdiam diri. Kemudian Beliau melanjutkan, "Sekarang aku telah mempunyai saksi yaitu Moggallana, saya akan menceritakan tentang peta ular ini."

    "Pada masa hidup Buddha Kassapa, peta itu terlahir menjadi seorang pencuri yang sangat kejam, dia membakar rumah orang kaya sebanyak tujuh kali. Tidak puas terhadap hal itu, dia juga membakar kuti harum Buddha Kassapa yang dibangun oleh orang kaya tersebut pada saat Buddha Kassapa sedang pergi berpindapatta. Sebagai akibat perbuatan jahatnya, dia mengalami penderitaan dalam waktu lama di alam neraka (niraya). Sekarang dia terlahir sebagai peta yang memiliki badan yang terbakar oleh kobaran api ke atas dan ke bawah sepanjang badannya. Para bhikkhu, orang bodoh bila melakukan kejahatan tidak mengerti bahwa perbuatan itu adalah perbuatan jahat; tetapi mereka tetap tidak akan dapat terlepas dari akibat kejahatannya itu."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

    "Atha pāpāni kammāni karaṃ bālo na bujjhati,
    sehi kammehi dummedho aggidaḍḍho va tappati."

    Apabila orang bodoh melakukan kejahatan,
    ia tak mengerti akan akibat perbuatannya.
    Orang bodoh akan tersiksa oleh perbuatannya sendiri,
    seperti orang yang terbakar oleh api.

(135) Kisah Para Wanita yang Melaksanakan Atthasila

Dhammapada

  • BAB X. DANDA VAGGA – Hukuman

    (135)Bagaikan seorang penggembala menghalau sapinya dengan tongkat ke padang rumput,begitu juga umur tua dan kematian menghalau kehidupan setiap makhluk. 

    Dhammapada Atthakatha :  

    (135) Kisah Para Wanita yang Melaksanakan Atthasila

    Suatu ketika lima ratus wanita dari Savatthi berkunjung ke Vihara Pubbarama untuk melaksanakan tekad peraturan moral uposatha. Pendiri vihara itu, Visakha yang terkenal, bertanya kepada kelompok-kelompok wanita itu mengapa mereka datang untuk melaksanakan kewajiban hari uposatha.

    Visakha memperoleh jawab berbeda-beda dari kelompok-kelompok wanita yang berbeda jenjang usianya, karena mereka datang dengan alasan yang bermacam-macam.

    Kelompok wanita yang usianya sudah tua melaksanakan kewajiban hari uposatha karena berharap memperoleh keuntungan/rejeki dan kebahagiaan surgawi lahir kembali sebagai dewa setelah meninggal dunia.

    Kelompok wanita usia setengah baya karena tidak ingin tinggal bersama dalam satu rumah dengan istri lain dari suami mereka.

    Kelompok wanita yang baru menikah berharap mendapatkan anak pertama laki-laki, dan kelompok wanita yang belum menikah berharap bisa menikah dengan suami yang baik.

    Mendapat jawab seperti itu, Visakha membawa para wanita tersebut menghadap Sang Buddha. Ketika Visakha memberitahukan kepada Sang Buddha tentang jawaban yang bermacam-macam dari kelompok-kelompok wanita itu, Sang Buddha berkata, "Visakha! Kelahiran, proses penuaan, dan kematian selalu terjadi pada setiap makhluk hidup; karena seseorang dilahirkan, ia akan menjadi subjek dari penuaan dan kelapukan, dan akhirnya kematian. Saat ini para wanita itu belum mengharapkan kebebasan dari lingkaran tumimbal lahir (samsara), mereka masih menyukai dan terikat dengan lingkaran tumimbal lahir (samsara)."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

    "Yathā daṇḍena gopālo gāvo pāceti gocaraṃ
    evaṃ jarā ca maccu ca āyuṃ pācenti pāṇinaṃ."

    Bagaikan seorang penggembala menghalau sapinya dengan tongkat ke padang rumput,
    begitu juga umur tua dan kematian menghalau kehidupan setiap makhluk.


    ------
    Notes :
    Hari Uposatha, umumnya jatuh setiap tanggal 1, 8, 15, 23 dalam penanggalan bulan.
    Pada hari-hari ini, umat awam yang berbakti, berusaha melatih diri dengan menjalankan Atthasila, membawa persembahan ke vihara dan mengisi waktu mereka di vihara dengan belajar dhamma dan meditasi.

    Atthasila (8 sila) terdiri dari :
    1. Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari membunuh makhluk lain)
    2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan)
    3. Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari aktivitas seksual).* Perhatikan, ini berbeda dengan pancasila biasa, dimana hanya hubungan seks yang tidak benar, sementara dalam atthasila, sama sekali tidak melakukan aktivitas seksual. 
    4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berkata yang tidak benar)
    5. Suramerayamajja pamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengkonsumsi minuman keras dan zat lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan)
    6. Vikalabhojana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari makan pada waktu yang tidak tepat). *yaitu tidak makan setelah lewat tengah hari sampai dengan esok paginya.
    7. Nacca-gita-vadita-visukkadassana mala-gandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanathana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari menari, bernyanyi, mendengarkan musik, pergi melihat hiburan, memakai perhiasan, memakai parfum, dan memakai kosmetik)
    8. Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berbaring di tempat yang tinggi dan mewah)

    Tujuan dari melatih sila-sila diatas adalah untuk mencegah kita melakukan karma buruk dan untuk mengurangi keinginan duniawi, kemelekatan terhadap hal-hal yang memanjakan nafsu kita.

    Atthasila ini juga dilaksanakan baik oleh umat Theravada maupun umat Mahayana.
    Ada pula sebagian kecil umat mahayana yang bervegetarian pada saat ce-it cap-go (tgl 1 dan tgl 15 penanggalan bulan). Ini adalah usaha yang baik untuk mulai mencoba melatih diri dan mengurangi nafsu. Semoga dapat ditingkatkan lagi lebih lanjut, entah berupa full atthasila plus vegetarian di hari uposatha, ataupun bervegetarian lebih sering lagi.

    Dalam Visakhuposatha Sutta (Anguttara Nikaya 8:43) yaitu sutta / khotbah kepada Visakha tentang Uposatha, Sang Buddha menyebutkan manfaat menjalankan Uposatha dan Atthasila.

    Yaitu dapat terlahir kembali di alam surga Catummaharajika dimana satu hari disana sama dengan 50 tahun manusia, (30 hari dalam sebulan, dan 12 bulan dalam setahun) dan umur kehidupan disana rata-rata adalah 500 tahun. Jadi rentang umur para dewa di Catummaharajika itu = 50 thn manusia x 30 hari x 12 bulan x 500 tahun = 9.000.000 tahun manusia.

    Atau dapat dapat terlahir di alam surga Tavatimsa, dimana 1 hari disana = 100 tahun manusia di bumi. Rentang umur disana rata-rata 1000 tahun. Jadi = 100 thn manusia x 30 x 12 x 1000 = 36 juta tahun manusia.

    Atau dapat terlahir di alam dewa Yama, dimana 1 hari disana = 200 tahun manusia. Rentang umur disana rata-rata 2000 tahun. Jadi = 200 x 30 x12 x 2000 = 144 juta tahun manusia.

    Atau dapat terlahir di alam dewa Tusita, dimana 1 hari disana = 400 tahun manusia. Rentang umur disana rata-rata 4000 tahun. Jadi = 400 x 30 x 12 x 2000 = 576 juta tahun manusia.

    Atau dapat terlahir di alam dewa Nimmanarati, dimana 1 hari disana = 800 tahun manusia. Rentang umur disana rata-rata 8000 tahun. Jadi = 800 x 30 x 12 x 8000 = 2.304.000.000 tahun manusia.

    Atau dapat terlahir di alam dewa Paranimmitavasavatti, dimana 1 hari disana = 1600 tahun manusia. Rentang umur disana rata-rata 16000 tahun. Jadi = 1600 x 30 x 12 x 16000 =
    9.216.000.000 tahun manusia.

    Tetapi, perlu diingat, walaupun rentang umur disana panjang sekali bahkan rasanya seperti abadi, setelah kebajikan yang menyebabkan kelahiran disana telah habis, yang bersangkutan akan dilahirkan kembali di alam-alam lain sesuai dengan karmanya. Masih belum terbebaskan dari lingkaran tumimbal lahir yang tiada putusnya (samsara). Karena itu Sang Buddha mengatakan para wanita itu masih menyukai samsara karena mereka masih belum timbul keinginannya untuk membebaskan diri dari samsara.
    Visakha sendiri, dikatakan, setelah kematiannya pada umur 120 tahun, beliau dilahirkan kembali di alam Nimmanarati sebagai istri Sunimmita, pemimpin para dewa di alam Nimmanarati.

    Kelahiran di alam bahagia, memang sangat baik apalagi jika dibandingkan dengan kelahiran kembali di alam rendah. Akan lebih baik lagi jika tujuan kita tidak cuma stop sampai di surga saja, karena kita tahu bahwa surga pun masih belum lepas dari samsara. Semoga timbul keinginan yang lebih luhur lagi, yaitu mencapai kebebasan seperti para Ariya, yaitu mencapai Nibbana.

(133-134) Kisah Kondadhana Thera

Dhammapada

  • BAB X. DANDA VAGGA – Hukuman

    (133)Jangan berbicara kasar kepada siapapun,karena mereka yang mendapat perlakuan demikian,akan membalas dengan cara yang sama.Sungguh menyakitkan ucapan kasar itu, yang pada gilirannya akan melukaimu. 

    (134)Apabila engkau berdiam diri bagaikan sebuah gong pecah,berarti engkau telah mencapai nibbana,sebab keinginan membalas dendam tak terdapat lagi dalam dirimu. 

    Dhammapada Atthakatha :  

    (133 – 134) Kisah Kondadhana Thera

    Sejak Kondadhana Thera diterima dalam pasamuan Sangha, ada bayangan wanita yang selalu mengikuti beliau. Bayangan ini hanya dapat dilihat oleh orang lain, sedangkan Kondadhana Thera sendiri tidak melihatnya.

    Ketika beliau berpindapatta, orang-orang memberikan dua sendok makanan kepada beliau, dengan mengatakan, "Ini untuk Bhante, dan yang ini untuk wanita yang mengikuti Bhante."

    Melihat seorang bhikkhu bepergian dengan seorang wanita, para penduduk menghadap kepada Raja Pasenadi dari Kosala dan melaporkan perihal bhikkhu dengan wanita tersebut, "O, Raja, usir saja bhikkhu itu dari kerajaanmu karena beliau tidak memiliki moral." Raja segera pergi ke vihara tempat bhikkhu itu berdiam dan para pengawalnya mengepung vihara tersebut.

    Mendengar suara ribut, bhikkhu itu keluar dan berdiri di depan pintu, dan bayangan wanita itu berada tidak jauh dari bhikkhu tersebut. Mengetahui raja yang datang, bhikkhu tersebut masuk dan menunggu di dalam. Raja masuk ke dalam ruangan, dan bayangan wanita itu tidak terdapat dalam tempat itu.

    Kemudian Raja bertanya kepada bhikkhu itu, di mana wanita tersebut berada, bhikkhu itu menjawab bahwa ia tidak melihat wanita.

    Raja menginginkan kepastian, ia menyuruh bhikkhu tersebut keluar ruangan. Kemudian bhikkhu tersebut keluar ruangan, dan ketika raja melihat keluar tertampak bayangan wanita di dekat bhikkhu itu.

    Akan tetapi ketika bhikkhu memasuki ruangan kembali, bayangan tersebut tidak diketemukan. Raja kemudian mengatakan bahwa wanita itu tidak benar-benar ada, dan bhikkhu tersebut tidak bersalah. Raja mengundang bhikkhu itu untuk datang ke istana, dan menerima dana makanan setiap hari.

    Ketika bhikkhu lain mendengar hal itu, mereka bingung, dan mereka berkata kepada Kondadhana Thera: "O, bhikkhu yang tidak bermoral! Sekarang, raja bukannya mengusirmu keluar dari kerajaan, malah telah mengundangmu menerima dana makanan, mampus kamu !"

    Kondadhana Thera berkata dengan pedas: "Sebenarnya kalianlah yang tidak bermoral, sebenarnya kalianlah yang sial, kalianlah yang bersama wanita!"

    Para bhikkhu kemudian menceritakan masalah ini kepada Sang Buddha.

    Sang Buddha memanggil Kondadhana Thera dan bertanya, "Anakku, apakah engkau melihat wanita bersama dengan para bhikkhu sehingga engkau berbicara begitu kepada mereka? Engkau tidak melihat seorang wanita ada bersama mereka, seperti mereka melihat wanita ada bersama kamu. Engkau tidak menyadari masalah ini adalah sebagai akibat perbuatan jahatmu dalam kehidupan yang lampau. Sekarang dengarlah, Saya akan menjelaskan kepadamu mengapa ada bayangan wanita yang mengikuti dirimu. Engkau adalah dewi dalam kehidupan lampaumu. Pada waktu itu ada dua orang bhikkhu yang sangat akrab. Engkau berusaha membuat masalah di antara mereka berdua, engkau menyamar sebagai seorang wanita yang mengikuti salah seorang bhikkhu itu*. Atas perbuatanmu itu, engkau sekarang diikuti oleh bayangan wanita. Jadi, selanjutnya engkau jangan berdebat dengan bhikkhu lain atas permasalahan itu. Diamlah seperti gong yang pecah, dan engkau akan merealisasi nibbana."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

    "Mā voca pharusaṃ kañci vuttā paṭivadeyyu taṃ,
    dukkhā hi sārambhakathā paṭidaṇḍā phuseyyu taṃ.

    Sace neresi attānaṃ kaṃso upahato yathā
    esa patto si nibbānaṃ sārambho te na vijjati."

    Jangan berbicara kasar kepada siapapun,
    karena mereka yang mendapat perlakuan demikian,
    akan membalas dengan cara yang sama.
    Sungguh menyakitkan ucapan kasar itu, yang pada gilirannya akan melukaimu.

    Apabila engkau berdiam diri bagaikan sebuah gong pecah,
    berarti engkau telah mencapai nibbana, sebab keinginan membalas dendam tak terdapat lagi dalam dirimu.

    --------
    Notes :

    Kejadiannya, dewi itu melihat dua bhikkhu yang bersahabat karib,  dan timbullah niat usil untuk memisahkan mereka. Ketika bhikkhu A ingin buang air kecil, dewi itu segera mengikuti ke semak-semak, dan ketika bhikkhu A keluar dari semak-semak, ia mengikutinya dari belakang sambil berpura-pura membenahi rambut dan bajunya. Bhikkhu A tidak melihatnya, tetapi bhikkhu B yang menunggu, menoleh ketika bhikkhu A keluar dan melihat dewi itu. Kemudian bhikkhu B memarahi bhikkhu A, ‘kamu telah melanggar sila’. Bhikkhu A tentu saja tidak merasa melanggar sila, dan bhikkhu B juga berkeras karena ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri ada wanita keluar dari belakang bhikkhu A sambil membenahi baju dan rambut. Mereka berselisih, hingga akhirnya si dewi ini menampakkan diri kepada mereka berdua dan mengaku dia hanya iseng. Tetapi perpecahan itu telah terjadi, dan walaupun mereka akhirnya berbaikan kembali, persahabatan itu tidak seperti dulu lagi.

(131-132) Kisah Para Pemuda

Dhammapada

  • BAB X. DANDA VAGGA – Hukuman

    (131)Barang siapa mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiridengan jalan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan,maka setelah mati ia tak akan memperoleh kebahagiaan.

    (132)
    Barang siapa mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan jalan tidak menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah mati ia akan memperoleh kebahagiaan.

    Dhammapada Atthakatha :  

    (131 – 132) Kisah Para Pemuda

    Suatu waktu, ketika Sang Buddha sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau berjalan melewati sekelompok pemuda yang sedang memukuli seekor ular dengan tongkat. Sang Buddha bertanya kepada mereka perihal itu, dan mereka menjawab, mereka memukul ular itu karena takut ular itu menggigitnya. Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Jika kalian tidak ingin disakiti, seharusnya kalian tidak menyakiti yang lain, jika kalian menyakiti mereka, kalian tidak akan mendapat kebahagiaan di kehidupan yang akan datang."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

    "Sukhakāmāni bhūtāni yo daṇḍena vihiṃsati
    attano sukham esāno pecca so na labhate sukhaṃ.

    Sukhakāmāni bhūtāni yo daṇḍena na hiṃsati
    attano sukham esāno pecca so na labhate sukhaṃ”

    Barang siapa mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan,
    maka setelah mati ia tak akan memperoleh kebahagiaan.

    Barang siapa mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan tidak menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan,
    maka setelah mati ia akan memperoleh kebahagiaan.

    Pada akhir khotbah, pemuda-pemuda itu mencapai tingkat kesucian sotapatti.