Tampilkan postingan dengan label 04.Puppha Vagga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 04.Puppha Vagga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juli 2013

(58-59) Kisah Garahadinna

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

    (58)
    Seperti dari tumpukan sampah yang dibuang di tepi jalan, tumbuh bunga teratai yang berbau harum dan menyenangkan hati.


    (59) Begitu juga di antara orang duniawi, siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna, bersinar menerangi dunia yang gelap ini dengan kebijaksanaannya.


    Dhammapada Atthakatha : 

    (58-59) Kisah Garahadinna

    Ada dua orang sahabat bernama Sirigutta dan Garahadinna tinggal di Savatthi. Sirigutta adalah seorang pengikut Buddha dan Garahadinna adalah pengikut Nigantha, pertapa yang memusuhi Sang Buddha.

    Dalam hal berkaitan dengan Nigantha, Garahadinna seringkali berkata kepada Sirigutta, "Apa manfaat yang kamu dapatkan menjadi pengikut Buddha? Kemarilah, jadilah pengikut guruku." Setelah berulang kali dibujuk, Sirigutta berkata kapada Garahadinna, "Katakan padaku, apa yang diketahui oleh gurumu?" Garahadinna mengatakan bahwa gurunya dapat mengetahui segalanya. Dengan kekuatannya, dia dapat mengetahui masa lampau, saat ini, dan masa depan dan juga dapat membaca pikiran orang lain. Maka, Sirigutta mengundang Nigantha untuk datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan.

    Sirigutta ingin mengetahui kebenaran tentang Nigantha, apakah mereka benar-benar memiliki kekuatan untuk mengetahui pikiran seseorang, masa lampau, sekarang dan masa depan seseorang.

    Maka ia membuat sebuah parit yang dalam dan panjang dan dipenuhi dengan sampah dan kotoran. Tempat duduk untuk Nigantha dan murid-muridnya ditempatkan dengan sembarangan di atas parit. Belanga-belanga kotor dan besar dibawa masuk dan ditutup dengan kain dan daun-daun pisang agar kelihatan seolah-olah penuh dengan nasi dan kari.

    Ketika pertapa-pertapa Nigantha tiba, mereka dipersilahkan untuk masuk satu per satu, untuk berdiri di dekat tempat duduk yang telah disiapkan, dan langsung dipersilahkan duduk. Ketika mereka telah duduk, penutup parit tadi pecah dan pertapa-pertapa Nigantha jatuh ke dalam parit yang kotor.

    Kemudian Sirigutta bertanya kepada mereka, "Kenapa kamu tidak mengetahui masa lalu, saat ini dan masa depan? Mengapa kamu tidak tahu pikiran orang lain?" Semua pertapa-pertapa Nigantha merasa dijebak.

    Garahadinna sangat marah kepada Sirigutta dan menolak untuk berbicara dengannya selama dua minggu. Kemudian, ia memutuskan bahwa ia akan membalas perlakuan Sirigutta. Karena itu, ia memutuskan untuk tidak marah lebih lama lagi.

    Suatu hari ia menyuruh Sirigutta mengundang Sang Buddha dan lima ratus muridnya untuk berpindapatta. Maka Sirigutta menghadap Sang Buddha dan mengundangnya ke rumah Garahadinna. Ia mengatakan kepada Sang Buddha apa yang ia lakukan kepada pertapa-pertapa Nigantha, guru Garahadinna. Ia juga mengutarakan rasa kuatir bahwa undangan tersebut mungkin suatu jebakan.

    Sang Buddha dengan kekuatan supranaturalnya, mengetahui bahwa akan merupakan suatu kesempatan bagi dua sahabat itu untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Dengan tersenyum Sang Buddha menyatakan undangan tersebut diterima.

    Garahadinna menggali parit, mengisinya dengan bara yang menyala dan menutupnya dengan karpet. Dia juga meletakkan belanga-belanga kosong yang ditutup dengan kain dan daun-daun pisang, agar kelihatannya penuh dengan nasi dan kari.

    Keesokan harinya, Sang Buddha datang diikuti oleh lima ratus bhikkhu dalam satu rombongan. Ketika Sang Buddha melangkah di atas karpet yang menutupi arang yang menyala, karpet dan bara api tiba-tiba menghilang, dan lima ratus bunga teratai sebesar roda kereta, membentang untuk Sang Buddha dan murid-muridnya duduk.

    Melihat keajaiban ini, Garahadinna sangat cemas dan dia mengatakan kepada Sirigutta: "Bantulah saya, teman. Karena keinginan saya untuk membalas dendam, saya sungguh telah melakukan perbuatan salah. Rencana buruk saya sama sekali tidak berpengaruh terhadap  gurumu. Periuk-periuk yang ada di dapur semuanya kosong. Tolonglah saya."

    Sirigutta kemudian berkata kepada Garahadinna untuk pergi dan melihat periuk-periuk tersebut. Ketika Garahadinna melihat ke dapur, semua periuk-periuknya telah berisi makanan. Ia menjadi sangat kagum. Pada waktu yang sama juga menjadi sangat lega dan gembira. Makanan tersebut kemudian disajikan kepada Sang Buddha dan murid-muridnya.

    Selesai makan, Sang Buddha menyatakan anumodana terhadap perbuatan baik itu dan Beliau berkata, "Mereka yang tidak-tahu, kurang pengetahuan, tidak mengetahui kualitas yang unik dari Sang Buddha, Dhamma, Sangha, mereka seperti orang buta. Tetapi orang bijaksana yang memiliki pengetahuan, seperti orang melihat."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

    "yathā saṃkāradhānasmiṃ ujjhitasmiṃ mahāpathe
    padumaṃ tattha jāyetha sucigandhaṃ manoramaṃ

    evaṃ saṃkārabhūtesu andhabhūte puthujjane
    atirocati paññāya sammāsambuddhasāvako"

    Seperti dari tumpukan sampah yang dibuang di tepi jalan,
    tumbuh bunga teratai yang berbau harum dan menyenangkan hati.

    Begitu juga di antara orang duniawi,
    siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna,
    bersinar menerangi dunia yang gelap ini dengan kebijaksanaannya.

    Ketika mendengarkan khotbah Sang Buddha, perlahan-lahan tubuh Garahadinna diliputi oleh kegembiraan dan kebahagiaan. Pada akhir khotbah, Sirigutta dan Garahadinna mencapai tingkat sotapatti.

    Keduanya memperbarui persahabatan mereka dan menjadi penyokong utama bagi Sang Buddha dan para bhikkhu. Mereka juga banyak berdana untuk kepentingan Dhamma.
    Sekembalinya ke Vihara Jetavana, para bhikkhu menyatakan ketakjuban mereka mengenai teratai yang muncul dari parit yang dipenuhi arang. Sang Buddha menjawab, bahwa ini bukanlah yang pertama kalinya hal itu terjadi. Kemudian atas permintaan mereka, Sang Buddha kemudian menceritakan Khadirangara Jataka.

    ------
    Notes :
    Khadirangara Jataka; di salah satu kehidupannya yang lalu, Sang Bodhisatta adalah seorang bendaharawan, beliau hendak memberikan dana makanan kepada seorang Pacceka Buddha. Mara menghalangi niat itu dengan menciptakan parit besar berisi api menyala di antara bendaharawan dan Pacceka Buddha. Tetapi sang bendaharawan tsb dengan tekad yang kuat tetap melangkah menuju Pacceka Buddha untuk memberikan mangkuk berisi makanan. Ketika ia melangkahkan kaki, muncul bunga-bunga teratai besar menerima pijakan kakinya, hingga ia selamat mencapai sang Pacceka Buddha untuk menuangkan makanan ke mangkuk Pacceka Buddha tsb.

(57) Kisah Godhika Thera

Dhammapada

BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

(57)Mara tak dapat menemukan jejak mereka yang memiliki sila,yang hidup tanpa kelengahan,dan yang telah terbebas melalui Pengetahuan Sempurna.

Dhammapada Atthakatha : 

(57) Kisah Godhika Thera

Godhika Thera, pada suatu kesempatan, melatih meditasi ketenangan dan pandangan terang, di atas lempengan batu di kaki gunung Isigili di Magadha. Ketika beliau telah mencapai Jhana, beliau jatuh sakit; dan kondisi ini mempengaruhi latihannya. Dengan mengabaikan rasa sakitnya, dia tetap berlatih dengan keras; tetapi setiap kali beliau mencapai kemajuan, beliau merasa kesakitan. Beliau mengalami hal ini sebanyak enam kali. Akhirnya, beliau memutuskan untuk berjuang keras hingga mencapai tingkat arahat, walaupun ia harus mati untuk itu.

Tanpa beristirahat, beliau melanjutkan meditasinya dengan rajin. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dengan memilih perasaan sakit sebagai obyek meditasi, beliau memotong lehernya sendiri dengan pisau. Dengan berkonsentrasi terhadap rasa sakit, beliau dapat memusatkan pikirannya dan mencapai arahat, tepat sebelum beliau meninggal.

Ketika Mara mendengar bahwa Godhika Thera telah meninggal dunia, ia mencoba untuk menemukan dimana Godhika Thera tersebut dilahirkan, tetapi gagal. Maka, dengan menyamar seperti laki-laki muda, Mara menghampiri Sang Buddha dan bertanya dimana Godhika Thera sekarang. Sang Buddha menjawab, "Sia-sia kamu mencari kemana Godhika Thera pergi, setelah terbebas dari kekotoran-kekotoran batin, ia mencapai tingkat kesucian arahat. Seseorang seperti kamu, Mara, dengan seluruh kekuatanmu tidak akan dapat menemukan kemana para arahat pergi setelah meninggal dunia."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Tesaṃ sampannasīlānaṃ appamādavihārinaṃ
sammadaññāvimuttānaṃ māro maggaṃ na vindati"

Mara tak dapat menemukan jejak mereka yang memiliki sila,
yang hidup tanpa kelengahan,
dan yang telah terbebas melalui Pengetahuan Sempurna.

-------------
Notes :
Sebagian besar pembaca akan bertanya-tanya, bunuh diri bolehkah ?
Tidak ada jawaban mutlak yes or no dalam kitab Tipitaka, dan banyak sekali pendapat pro dan kontra dalam berbagai artikel dan forum-forum mengenai hal ini.
Semuanya tergantung situasi dan motivasi. Dalam cerita Jataka, Sang Bodhisatta (calon Buddha, dalam beberapa kali kelahirannya sebelum lahir sebagai Pangeran Siddhartha) beberapa kali telah mengorbankan dirinya untuk makhluk lain. Juga beberapa Arahat sewaktu hendak meninggal mengkremasi tubuhnya sendiri; mereka duduk bermeditasi lalu mengeluarkan api yang membakar tubuhnya.

Yang jelas, jangan ikut-ikutan bunuh diri gara-gara pernah baca Godhika Thera bunuh diri dan mencapai kearahatan! :D
Perlu kita ingat, beliau memang sudah dekat sekali dengan tujuannya, sudah 6 kali mencapai jhana, dan hanya terganggu karena penyakitnya yang parah.
Seperti yang kita ketahui dari notes sebelumnya, orang yang telah mencapai Jhana / meninggal dalam jhana, akan dilahirkan di alam Brahma. Sebagian pendapat menyatakan bahwa Godhika Thera bertujuan untuk meninggal saat ia masih mampu mencapai jhana agar dapat lahir kembali di alam brahma, tentunya dengan harapan untuk meneruskan usaha meditasinya yang tinggal sedikit lagi untuk mencapai arahat di alam brahma. Dan nampaknya beliau mampu menjaga pikirannya dengan baik, bahkan melampaui targetnya, dan meraih kearahatan.

Jangan dibandingkan dengan orang awam biasa yang kemungkinan besar sewaktu bunuh diri, yang ada di pikiran mereka adalah kebencian, keputus-asaan, ketakutan, dll yang negatif. Jika kita meninggal dunia dengan pikiran-pikiran seperti itu, akibatnya kita akan terseret menuju kelahiran di alam rendah.
Lagipula, kalau orang awam bunuh diri untuk menghindari sesuatu hal, tak ada jaminan dia tak akan menghadapi hal yang sama lagi di kehidupan yang mendatang.

(56) Kisah Mahakassapa Thera

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

    (56)Tidaklah seberapa harumnya bunga tagara dan kayu cendana;tetapi harumnya mereka yang menjalankan sila, menyebar sampai ke surga.

    Dhammapada Atthakatha : 

    (56) Kisah Mahakassapa Thera

    Setelah mencapai Nirodhasamapatti (pencerapan batin mendalam), Mahakassapa Thera memasuki daerah miskin di kota Rajagaha untuk berpindapatta. Beliau bermaksud untuk memberikan kesempatan bagi orang-orang miskin tersebut untuk memperoleh jasa baik sebagai hasil berdana kepada seseorang yang baru saja mencapai Nirodhasamapatti.

    Sakka, raja para dewa, yang berharap mendapat kesempatan untuk berdana kepada Mahakassapa Thera, menyamar sebagai penenun tua dan miskin, datang ke Rajagaha dengan istrinya Sujata yang menyamar sebagai wanita tua.

    Mahakassapa Thera berdiri di depan pintu rumah mereka. Penenun tua itu mengambil mangkuk dari Mahakassapa Thera dan mengisi mangkuk tersebut penuh dengan nasi dan kari, dan harumnya kari tersebut menyebar ke seluruh kota. Terpikir oleh sang thera bahwa orang tersebut pasti bukan manusia biasa, dan menyadari orang tersebut pastilah dewa Sakka. Sakka mengakui siapa dia sebenarnya dan menyatakan bahwa dia juga miskin, sebab dia tidak mempunyai kesempatan untuk mendanakan sesuatu kepada seseorang selama masa kehidupan para Buddha. Setelah mengatakan hal tersebut, Sakka dan istrinya meninggalkan Mahakassapa Thera; setelah memberikan penghormatan kepadanya.

    Sang Buddha, dari vihara tempat Beliau tinggal, mengetahui bahwa Sakka dan Sujata telah pergi dan mengatakan kepada para bhikkhu tentang dana makanan dari Sakka kepada Mahakassapa Thera.
    Para bhikkhu kagum bagaimana Sakka mengetahui bahwa Mahakassapa Thera baru mencapai Nirodhasamapatti, dan tahu itu merupakan waktu yang sangat tepat dan bermanfaat baginya untuk berdana kepada Sang Thera. Pertanyaan ini diajukan kepada Sang Buddha, dan Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, kebajikan seseorang seperti putraKu, Mahakassapa Thera, menyebar luas dan jauh; bahkan mencapai alam dewa. Karena reputasi kebajikannya, Sakka sendiri telah datang untuk berdana makanan kepadanya."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

    "Appamatto ayaṃ gandho yāyaṃ tagaracandanī
    yo ca sīlavataṃ gandho vāti devesu uttamo."

    Tidaklah seberapa,
    harumnya bunga tagara dan kayu cendana;
    tetapi harumnya mereka yang menjalankan sila,
    menyebar sampai ke surga.

(55-55) Kisah Pertanyaan Ananda

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

    (54)

    Harumnya bunga tidak dapat melawan arah angin,
    begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati,tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin;harumnya kebajikan menyebar ke semua penjuru.

    (55)Kayu cendana, bunga tagara,teratai biru dan juga melati,di antara wewangian-wewangian ini tak ada yang dapat melebihi harumnya kebajikan.

    Dhammapada Atthakatha : 

    (54-55) Kisah Pertanyaan Ananda

    Di suatu senja, Y.A. Ananda sedang duduk sendiri. Dalam pikiran beliau timbul masalah yang berkaitan dengan bau dan wangi-wangian. Ia berpikir: "Harumnya kayu, harumnya bunga-bunga, dan harumnya akar-akaran semuanya menyebar searah dengan arah angin, tetapi tidak bisa berlawanan dengan arah angin. Apakah tidak ada wangi-wangian yang dapat melawan arah angin? Apakah tidak ada wangi-wangian yang dapat merebak ke seluruh dunia?"

    Tanpa menjawab pertanyaannya sendiri, Y.A. Ananda menghampiri Sang Buddha dan bertanya kepada-Nya.

    Sang Buddha mengatakan, "Ananda, misalnya, ada seseorang yang berlindung terhadap Tiga Permata (Buddha, Dhamma, Sangha), yang melaksanakan lima latihan sila, yang murah hati dan tidak kikir, orang seperti itu sungguh bijaksana dan layak memperoleh pujian. Kebajikan  orang tersebut akan menyebar jauh dan luas, dan para bhikkhu, brahmana dan perumah tangga akan menghormatinya di manapun ia tinggal.

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

    "na pupphagandho paṭivātam eti
    na candanaṃ tagaramallikā vā
    satañ ca gandho paṭivātam eti
    sabbā disā sappuriso pavāti

    candanaṃ tagaraṃ vāpi uppalaṃ atha vassikī
    etesaṃ gandhajātānaṃ sīlagandho anuttaro"

    Harumnya bunga tidak dapat melawan arah angin,
    begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati,
    tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin;
    harumnya kebajikan menyebar ke semua penjuru.

    Kayu cendana, bunga tagara,
    teratai biru dan juga melati,
    di antara wewangian-wewangian ini 
    tak ada yang dapat melebihi harumnya kebajikan.

(53) Kisah Visakha

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

    (53)Seperti dari tumpukan bunga-bungadapat dibuat banyak karangan bunga;demikian pula banyak kebajikanhendaknya dilakukan oleh manusia

    Dhammapada Atthakatha : 

    (53) Kisah Visakha

    Seorang hartawan dari Bhaddiya bernama Danancaya, dari istrinya Sumanadevi mempunyai puteri yang dinamai Visakha. Visakha juga merupakan cucu dari Mendaka, salah satu dari lima hartawan yang ada di wilayah kerajaan Raja Bimbisara. Ketika Visakha berusia tujuh tahun, Sang Buddha berkunjung ke Bhaddiya.

    Pada suatu kesempatan hartawan Mendaka mengajak Visakha dan lima ratus pengiringnya untuk memberikan penghormatan pada Sang Buddha. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Visakha, kakeknya dan semua lima ratus pengawalnya mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

    Ketika Visakha dewasa, dia menikah dengan Punnavaddhana, putera Migara, seorang hartawan dari Savatthi. Suatu hari, ketika Migara sedang makan siang, seorang bhikkhu berhenti untuk berpindapatta di rumah orang tersebut; tetapi Migara tidak menghiraukan bhikkhu tersebut.

    Visakha melihat hal ini, kemudian berkata kepada bhikkhu tersebut: "Maafkan saya, teruslah berjalan bhante, ayah mertua saya hanya makan makanan basi."

    Mendengar hal itu Migara menjadi sangat marah dan menyuruhnya untuk pergi. Tetapi Visakha mengatakan bahwa ia tidak akan pergi, dan dia akan memanggil delapan wali yang dikirim oleh ayahnya untuk menemaninya dan menasehatinya. Wali-wali tersebut akan memutuskan apakah Visakha bersalah atau tidak bersalah.

    Ketika para wali telah berkumpul, Migara berkata : "Ketika saya sedang makan nasi dan susu dengan mangkuk emas, Visakha mengatakan bahwa saya hanya makan makanan kotor dan basi. Untuk kesalahan itu saya akan mengirimnya pulang."

    Kemudian Visakha menjelaskan sebagai berikut: "Ketika saya melihat ayah mertua saya tidak menghiraukan seorang bhikkhu yang berdiri berpindapatta, saya berpikir bahwa ayah mertua saya tidak melakukan perbuatan baik pada kehidupan saat ini, beliau hanya makan dari hasil perbuatan baiknya yang lampau. Maka, saya mengatakan, ayah mertua saya hanya makan makanan basi. Sekarang tuan-tuan, apa pendapat anda, apakah saya bersalah?" Para wali memutuskan bahwa Visakha tidak bersalah.

    Visakha kemudian mengatakan bahwa dia adalah seseorang yang memiliki keyakinan yang mutlak dan tak tergoyahkan dalam ajaran Sang Buddha, dan tak bisa tinggal di rumah dimana  kehadiran para bhikkhus tidak disambut dengan baik. Juga, apabila dia tidak diizinkan untuk mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan dan persembahan lainnya, dia akan meninggalkan rumah. Akhirnya Visakha memperoleh izin untuk mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk ke rumahnya.

    Keesokan harinya Sang Buddha dan murid-muridNya diundang ke rumah Visakha. Ketika dana makanan telah disajikan, Visakha mengundang ayah mertuanya untuk bersama-sama mendanakan makanan tersebut. Tetapi ayah mertuanya tidak mau datang. Setelah makan siang berakhir, sekali lagi dia mengundang ayah mertuanya, kali ini dengan pesan agar ayah mertuanya untuk datang ikut mendengarkan yang akan segera diberikan oleh Sang Buddha. Ayah mertuanya merasa bahwa tidak seharusnya dia menolak untuk kedua kalinya. Tetapi, gurunya, pertapa Nigantha, tidak mengizinkan dia pergi, namun akhirnya mengijinkan ia untuk mendengarkan dari balik tirai. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Migara mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Dia sangat berterima kasih kepada Sang Buddha dan juga menantunya.

    Sebagai bentuk rasa terima kasihnya, dia menyatakan bahwa mulai sekarang Visakha akan menjadi ibunya, dan Visakha kemudian dikenal sebagai Migaramata.

    Visakha mempunyai sepuluh anak laki-laki dan sepuluh anak perempuan, dan masing-masing anak mempunyai sepuluh anak laki-laki dan sepuluh anak perempuan.

    Visakha memiliki sebuah perhiasan yang dihiasi dengan permata-permata yang mahal harganya, pemberian ayahnya pada hari pernikahannya. Suatu hari Visakha pergi ke Vihara Jetavana bersama para pengikutnya. Saat tiba di vihara, dia merasa bahwa perhiasannya sangat berat. Maka, ia melepaskan perhiasannya dan membungkusnya dengan selendang, memberikan kepada pelayannya untuk dibawa dan dijaganya. Ternyata pelayan tersebut lupa ketika mereka meninggalkan vihara. Sudah menjadi kebiasaan Y.A. Ananda menyimpan barang-barang yang ditinggalkan umat.

    Visakha mengirim kembali pelayannya ke vihara: "Pergi dan lihatlah perhiasan permata itu, tetapi jika Y.A. Ananda telah menemukan dan menyimpannya di suatu tempat, jangan bawa pulang kembali; saya mendanakan perhiasan permata itu kepada Y.A. Ananda." Tetapi Y.A. Ananda tidak mau menerima dana tersebut.
    Maka Visakha memutuskan untuk menjual perhiasan tersebut dan kemudian akan mendanakan hasil penjualannya. Tetapi tidak seorang pun yang mampu membeli perhiasan tersebut. Akhirnya Visakha membelinya sendiri seharga sembilan score dan satu lakh. Dengan uang tersebut ia membangun sebuah vihara di bagian timur kota: Vihara ini dikenal dengan nama Pubbarama.

    Setelah upacara pelimpahan jasa ia mengundang seluruh keluarganya dan mengatakan kepada mereka bahwa semua keinginannya telah terpenuhi dan ia tidak lagi mempunyai keinginan. Kemudian sambil melantunkan lima syair kegembiraan ia berputar mengelilingi vihara.

    Beberapa bhikkhu mendengarnya. Mereka berpikir bahwa kelakuan Visakha sangat berlebihan. Maka mereka melaporkan kepada Sang Buddha bahwa Visakha tidak seperti sebelumnya berkeliling vihara sambil menyanyi. Para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha: "Apakah itu berarti Visakha kehilangan akal sehatnya?"

    Sang Buddha menjawab, "Hari ini, Visakha telah memenuhi keinginan masa lampau dan masa saat ini,  dan karena keberhasilan tersebut, ia merasa gembira dan puas. Visakha hanya  melantunkan syair-syair kegembiraan, yang pasti ia tidak kehilangan akal sehatnya. Visakha, pada kehidupan lampau selalu menjadi seorang donatur yang murah hati dan bersemangat mendukung ajaran-ajaran para Buddha. Ia juga berkecenderungan kuat melakukan perbuatan-perbuatan baik dan telah melakukan banyak kebajikan pada kehidupan lampaunya, seperti seorang perangkai bunga yang telah banyak membuat rangkaian bunga dari tumpukan bunga-bunga.

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

    "yathāpi puppharāsimhā kayirā mālāguṇe bahū
    evaṃ jātena maccena kattabbaṃ kusalaṃ bahuṃ."

    Seperti dari tumpukan bunga-bunga
    dapat dibuat banyak karangan bunga;
    demikian pula banyak kebajikan
    hendaknya dilakukan oleh manusia.

(51-52) Kisah Chattapani, Seorang Umat Awam

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

    (51)
    Bagaikan sekuntum bunga yang indah
    tetapi tidak berbau harum;
    demikian pula kata-kata mutiara
    tidak berguna bagi orang yang tidak melaksanakannya.

    (52)
    Bagaikan sekuntum bunga yang indah
    serta berbau harum;
    demikian pula kata-kata mutiara
    bermanfaat bagi orang yang melaksanakannya

    Dhammapada Atthakatha : 

    (51-52) Kisah Chattapani, Seorang Umat Awam

    Seorang umat awam bernama Chattapani yang merupakan seorang Anagami tinggal di Savatthi. Pada suatu kesempatan, Chattapani menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana mendengarkan khotbah Dhamma dengan penuh hormat dan penuh perhatian.

    Ketika itu Raja Pasenadi juga sedang mengunjungi Sang Buddha. Chattapani tidak berdiri sebab dia berpikir bahwa berdiri berarti dia memberikan hormat kepada raja bukan kepada Sang Buddha. Raja menganggap hal ini adalah suatu penghinaan dan merasa sangat tersinggung. Sang Buddha mengetahui pemikiran Raja Pasenadi; maka Beliau memuji Chattapani, yang sangat baik dalam Dhamma dan juga telah mencapai tingkat kesucian Anagami.

    Mendengar hal ini, Raja Pasenadi sangat terpesona dan memberikan penghormatan kepada Chattapani.

    Pada pertemuan berikutnya, raja bertemu dengan Chattapani dan berkata, "Anda sangat pandai; dapatkah anda datang ke istana dan memberikan pelajaran Dhamma kepada dua orang istriku?" Chattapani menolak tetapi beliau menyarankan untuk meminta izin kepada Sang Buddha agar menugaskan seorang bhikkhu untuk memberikan pelajaran Dhamma. Raja menghampiri Sang Buddha dan menceritakan maksudnya. Sang Buddha memerintahkan Ananda untuk memberikan pelajaran Dhamma secara teratur kepada Ratu Mallika dan Ratu Vasabhakhattiya di istana.

    Setelah beberapa waktu, Sang Buddha bertanya kepada Ananda tentang kemajuan dari kedua orang ratu tersebut. Ananda menjawab bahwa Ratu Mallika mendengarkan Dhamma dengan sungguh-sungguh sedangkan Vasabhakhattiya tidak sungguh-sungguh belajar Dhamma. Mendengar ini Sang Buddha berkata bahwa Dhamma akan memberikan manfaat bagi seseorang yang mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, penuh hormat, dan penuh perhatian serta rajin mempraktekkan apa yang telah dipelajari.

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

    Yathāpi ruciraṃ pupphaṃ
    vaṇṇavantaṃ agandhakaṃ
    evaṃ subhāsitā vācā
    aphalā hoti akubbato

    Yathā’pi ruciraṃ pupphaṃ
    vaṇṇavantaṃ sagandhakaṃ
    evaṃ subhāsitā vācā
    saphalā hoti sakubbato

    Bagaikan sekuntum bunga yang indah
    tetapi tidak berbau harum;
    demikian pula kata-kata mutiara
    tidak berguna bagi orang yang tidak melaksanakannya.

    Bagaikan sekuntum bunga yang indah
    serta berbau harum;
    demikian pula kata-kata mutiara
    bermanfaat bagi orang yang melaksanakannya

(50) Kisah Pertapa Paveyyaka

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

    (50)Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh orang lain.Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.

    Dhammapada Atthakatha : 

    (50) Kisah Pertapa Paveyya

    Seorang wanita kaya berasal dari Savatthi telah mengangkat Paveyya, seorang pertapa, sebagai seorang anak dan memenuhi semua kebutuhannya. Ketika dia mendengar tetangganya memuji Sang Buddha, dia sangat berharap dapat mengundang Beliau ke rumahnya untuk menerima dana makanan. Maka, Sang Buddha diundang ke rumah wanita kaya tersebut dan makanan terpilih telah disiapkan.

    Ketika Sang Buddha sedang menyampaikan anumodana, Paveyya, yang berada di ruang sebelah, menjadi sangat murka. Dia menyalahkan dan mengutuk wanita tersebut karena menghormati Sang Buddha. Wanita tersebut mendengar kutukan serta teriakannya, menjadi sangat malu sehingga dia tidak dapat berkonsentrasi terhadap apa yang disampaikan oleh Sang Buddha. Sang Budha berkata kepada wanita itu agar tidak usah memperhatikan kutukan-kutukan dan perlakuan tersebut, tetapi perhatikan saja perbuatan baik dan perbutan buruk yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

    "na paresaṃ vilomāni, na paresaṃ katākataṃ
    attano va avekkheyya katāni akatāni ca”

    Janganlah memperhatikan kesalahan dan
    hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh orang lain.
    Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan
    dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.

    Wanita kaya tersebut mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

(49) Kisah Kosiya, Orang Kaya yang Kikir

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

     (49)Bagaikan seekor kumbang mengumpulkan madu dari bunga-bunga tanpa merusak warna dan baunya;demikian pula hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa.

    Dhammapada Atthakatha : 

    (49) Kisah Kosiya, Orang Kaya yang Kikir

    Di desa Sakkara, dekat Rajagaha, tinggallah orang yang sangat kaya tapi kikir, bernama Kosiya. Dia tidak suka memberikan sesuatu miliknya meskipun hanya sebagian kecil. Suatu hari, supaya tidak perlu berbagi dengan orang lain, orang kaya dan istrinya tersebut membuat roti di bagian atas rumahnya di tempat yang tidak seorang pun dapat melihat.

    Suatu pagi, Sang Buddha dengan kekuatan Dibbacakkhu-Nya*, melihat orang kaya tersebut dan istrinya. Beliau mengetahui bahwa mereka akan dapat mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Maka Sang Buddha mengirim murid utamaNya, yaitu Maha Moggallana ke rumah orang kaya tesebut dengan petunjuk untuk membawa mereka ke Vihara Jetavana pada saat makan siang.

    Murid utama, Maha Moggallana, dengan kekuatan batin luar biasanya, segera sampai di rumah Kosiya dan berdiri di jendela. Orang kaya tersebut melihat dan menyuruhnya pergi, Yang Ariya Maha Moggallana hanya berdiri di jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

    Akhirnya, Kosiya berkata pada istrinya : " Buatkan roti yang sangat kecil dan berikan pada bhikkhu tersebut." Istrinya hanya mengambil sedikit adonan dan meletakkannya di panggangan roti, dan roti tersebut mengembang memenuhi panggangan. Kosiya berpikir bahwa pasti istrinya menaruh adonan terlalu banyak, maka dia hanya mengambil sedikit sekali adonan dan meletakkan di panggangan. Roti tersebut juga mengembang menjadi sangat besar. Hal ini terulang terus menerus, meskipun mereka hanya meletakkan sedikit adonan dalam panggangan, mereka tidak berhasil membuat roti yang kecil.

    Akhirnya, Kosiya menyuruh istrinya untuk mendanakan satu roti dari keranjang tersebut kepada Maha Moggallana. Ketika istrinya mencoba untuk mengeluarkan sebuah roti dari keranjang, roti tersebut tidak dapat lepas karena telah lengket menjadi satu dan tidak dapat dipisahkan. Akhirnya Kosiya kehilangan semua seleranya untuk menikmati roti tersebut dan menawarkan seluruh keranjang roti kepada Maha Moggallana. Murid utama Sang Buddha kemudian menyampaikan khotbah tentang kemurahan hati kepada orang kaya kikir beserta istrinya. Beliau juga menyampaikan bahwa Sang Buddha telah menunggu mereka dengan lima ratus bhikkhu di Vihara Jetavana, di Savatthi, 45 yojana dari Rajagaha.

    Maha Moggallana, dengan kekuatan batin luar biasanya, membawa Kosiya dan istrinya sekaligus keranjang roti tersebut, untuk menghadap Sang Buddha. Di sana mereka mendanakan roti tersebut kepada Sang Buddha dan lima ratus bhikkhu. Selesai makan, Sang Buddha menyampaikan khotbah mengenai kemurahan hati, dan Kosiya beserta istrinya mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

    Keesokan sore harinya, ketika para bhikkhu bercakap-cakap dan memuji Maha Moggallana, Sang Buddha menghampiri mereka dan berkata, "Para bhikkhu, seharusnya kamu juga berdiam dan berkelakuan di desa seperti Maha Moggallana, menerima pemberian dari penduduk desa tanpa mengurangi keyakinan dan kemurahan hati mereka, atau sejahteraan mereka."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

    “yathā’pi bhamaro pupphaṃ
    vaṇṇagandhaṃ aheṭhayaṃ
    paleti rasam ādāya
    evaṃ gāme munī care”

    Bagaikan seekor kumbang mengumpulkan madu dari bunga-bunga
    tanpa merusak warna dan baunya;
    demikian pula hendaknya orang bijaksana
    mengembara dari desa ke desa.

    --------
    Notes :
    * Dibbacakkhu : (cakkhu = mata , dibba = divine) Mata batin/mata dewa/mata super); kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan kesanggupan melihat muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan kammanya masing-masing, dll.
    Setiap pagi Sang Buddha akan melihat ke segala penjuru dengan dibbacakkhuNya, apakah ada yang memiliki potensi untuk mencapai kesucian hari itu dan butuh pertolongan untuk mencapainya.

(48) Kisah Patipujika Kumari

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

    (48)Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,yang pikirannya melekat padanya sebelum terpuaskan dalam nafsu kenikmatan indria,kematian telah menguasainya 
    Dhammapada Atthakatha : 

    (48) Kisah Patipujika Kumari

    Patipujika Kumari adalah seorang wanita dari Savatthi. Dia menikah pada usia 16 tahun dan mempunyai empat orang putra. Patipujika Kumari merupakan seorang wanita yang baik budi dan murah hati, suka memberikan dana makanan dan kebutuhan lain kepada para bhikkhu. Dia juga sering pergi ke vihara dan membersihkan halaman, mengisi tempat air, dan memberikan bantuan lainnya.

    Patipujika juga mempunyai kemampuan "Jatissara", yaitu kemampuan batin untuk mengingat kehidupannya yang lampau dimana dia adalah salah seorang istri Malabhari, yang tinggal di alam dewa Tavatimsa. Dia juga ingat bahwa dia telah meninggal dunia di Tavatimsa ketika mereka para dewa dewi sedang berjalan-jalan dan menikmati kesenangan di taman, dan memetik bunga-bunga.

    Maka, setiap saat dia berdana kepada para bhikkhu atau melakukan perbuatan-perbuatan baik lainnya, dia berharap dapat dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa sebagai istri Malabhari, suaminya terdahulu.

    Suatu hari, Patipujika jatuh sakit dan meninggal dunia pada sore itu juga. Seperti apa yang dia inginkan, dia dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa sebagai istri Malabhari. Seratus tahun di alam manusia sama dengan satu hari di alam Tavatimsa, Malabhari dan istri-istrinya yang lain masih bermain-main di taman; dan kepergian Patipujika hampir tidak dirasakan oleh mereka. Maka, ketika dia kembali bergabung dengan mereka, Malabhari menanyakan ke mana Patipujika pagi hari tadi. Dia kemudian menceritakan kematiannya di alam Tavatimsa dan kelahirannya kembali di alam manusia. Pernikahannya dengan seorang manusia dan juga tentang bagaimana dia telah mempunyai empat orang putra. Kematiannya di alam manusia dan lahir kembali di alam Tavatimsa.

    Ketika para bhikkhu mendengar kematian Patipujika, mereka bersedih. Kemudian mereka menghadap Sang Buddha dan melaporkan kematian Patipujika, orang yang sering memberikan dana makanan pada pagi hari, telah meninggal pada sore hari.

    Sang Buddha menjawab bahwa kehidupan suatu makhluk sangat singkat; dan sebelum mereka puas dengan kesenangan-kesenangan indrianya, kematian telah menguasainya.

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

    “pupphāni h’eva pacinantaṃ vyāsattamanasaṃ naraṃ
    atittaṃ yeva kāmesu antako kurute vasaṃ”

    Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
    yang pikirannya melekat padanya
    sebelum terpuaskan dalam nafsu kenikmatan indria,
    kematian telah menguasainya.

(47) Kisah Vidudabha

Dhammapada

BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga
  • (47)Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,yang pikirannya melekat pada kesenangan indria ituakan diseret oleh kematian,bagaikan banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur. 

    Dhammapada Atthakatha : 

    (47) Kisah Vidudabha

    Raja Pasenadi dari Kosala, yang berharap dapat menikah dengan seorang putri dari suku Sakya, mengirimkan beberapa utusan ke Kapilavatthu dengan suatu permohonan meminang salah seorang putri suku Sakya.

    Tidak ingin menghina Raja Pasenadi dengan penolakan, pangeran suku Sakya mengatakan bahwa mereka akan memenuhi permintaan tersebut, tetapi mereka tidak mengirimkan seorang putri, melainkan seorang gadis cantik yang lahir dari Raja Mahanama dengan seorang budak wanita. Raja Pasenadi mengangkat gadis tersebut sebagai permaisuri, kemudian berputera dan diberi nama Vidudabha.

    Ketika sang pengeran berusia 16 tahun, Raja Pasenadi mengirimnya untuk mengunjungi Raja Mahanama dan pangeran-pangera suku Sakya. Di sana sang pangeran diterima dengan ramah. Tetapi semua pangeran suku Sakya yang lebih muda dari Vidudabha telah pergi ke suatu desa, sehingga mereka tidak perlu memberikan penghormatan kepada Vidudabha.

    Setelah tinggal selama beberapa hari di Kapilavatthu, Vidudabha dan rombongannya berniat untuk pulang. Segera setelah sang pangeran dan rombongannya pergi, seorang budak wanita mencuci tempat-tempat dimana Vidudabha duduk dengan susu. Dia juga mengutuk sambil berteriak: "Ini adalah tempat dimana putra seorang budak telah duduk,.....".

    Waktu itu, salah seorang pengikut Vidudabha kembali untuk mengambil barang yang tertinggal, dan kebetulan mendengar apa yang diucapkan oleh gadis itu. Budak wanita itu juga mengatakan bahwa ibu Vidudabha, Vasabhakhattiya, adalah putri dari seorang budak wanita milik Mahanama.

    Ketika Vidudabha diberi tahu tentang kejadian tersebut, dia menjadi sangat marah dan mengatakan bahwa suatu hari dia akan menghancurkan semua suku Sakya. Untuk membuktikan ucapannya, ketika Vidudabha menjadi raja, dia menyerbu dan membunuh semua suku Sakya, terkecuali beberapa orang yang bersama Mahanama.

    Dalam perjalanan pulang, Vidudabha dan pasukannya berkemah di muara Sungai Aciravati. Akibat hujan turun dengan lebatnya di kota bagian atas pada malam yang gelap itu, sungai meluap dan mengalir ke bawah dengan derasnya menghanyutkan Vidudabha dan pasukannya ke samudera.

    Mendengar dua kejadian tragis ini, Sang Buddha menerangkan kepada para bhikkhu bahwa saudara-saudaranya, pangeran-pangeran suku Sakya, pada kehidupan mereka sebelumnya, mereka menaruh racun ke dalam sungai untuk membunuh ikan-ikan. Kematian para pangeran suku Sakya dalam suatu pembantaian massal merupakan buah dari perbuatan yang telah mereka lakukan pada kehidupan sebelumnya.

    Berkaitan dengan kejadian yang menimpa Vidudabha dan pasukannya, Sang Buddha mengatakan: "Bagaikan banjir besar menghanyutkan penduduk desa pada sebuah desa yang tertidur, demikian juga, kematian menghanyutkan semua makhluk yang melekat pada nafsu keinginan"

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

    "pupphāni h’eva pacinantaṃ
    vyāsattamānasaṃ naraṃ
    suttaṃ gāmaṃ mahogho va
    maccu ādāya gacchati"

    Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
    yang pikirannya melekat pada kesenangan indria itu
    akan diseret oleh kematian,
    bagaikan banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.

    -----
    Notes :

    * Bersama Ratu Mallika, Raja Pasenadi mempunyai seorang puteri, yaitu Vajiri, dan kemudian bersama dengan Ratu Vasabha ia mempunyai putera yaitu Vidudabha

(46) Bhikkhu Yang Memandang Tubuh Sebagai Suatu Bayangan

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

    (46)Ia yang mengetahui bahwa tubuh ini bagaikan buih,menyadari sifat mayanya,dan mematahkan panah Mara yang berujung bunga,berada di luar jangkauan penglihatan raja kematian.

    Dhammapada Atthakatha : 

    (46) Bhikkhu Yang Memandang Tubuh Sebagai Suatu Bayangan

    Pada suatu kesempatan, setelah mendapat petunjuk bermeditasi dari Sang Buddha, seorang bhikkhu segera pergi ke hutan. Meskipun ia telah berusaha dengan keras, dia hanya mendapat kemajuan yang kecil dalam latihan meditasinya; sehingga ia memutuskan untuk kembali menemui Sang Buddha untuk mendapat petunjuk lebih jauh.

    Dalam perjalanan pulang, dia melihat sebuah bayangan, yang hanya merupakan pantulan  semu dari air. Segera ia menyadari bahwa tubuh ini juga semu seperti bayangan. Dengan tetap memelihara pikiran tersebut, ia menuju ke tepi sungai Aciravati. Ketika sedang duduk di bawah pohon dekat sungai, melihat ombak yang pecah, ia menyadari ketidakkekalan tubuh jasmani.

    Kemudian Sang Buddha menampakkan diri dan berkata kepadanya: "Anak-Ku, seperti yang kamu telah sadari, tubuh tidak kekal seperti halnya buih, dan semu seperti halnya sebuah bayangan."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

    “pheṇūpamaṃ kāyam imaṃ viditvā
    marīcidhammaṃ abhisambudhāno
    chetvāna mārassa papupphakāni
    adassanaṃ maccurājassa gacche”

    Ia yang mengetahui bahwa tubuh ini bagaikan buih,
    menyadari sifat mayanya,
    dan mematahkan panah Mara yang berujung bunga,
    berada di luar jangkauan penglihatan raja kematian.

    Bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

    ----------------------------------------

    Notes :
    * papupphakāni = panah yang berujung bunga, melambangkan 3 mata rantai yang saling berkaitan, yaitu kilesa/kekotoran batin, kamma/perbuatan, dan vipaka/hasil kamma.

    * adassanam maccurājassa gacche = dalam konteks ini, ‘berada diluar jangkauan kematian’ berarti mencapai Nibbana/Nirvana.

(44-45) Kisah Lima Ratus Bhikkhu

Dhammapada

  • BAB IV. PUPPHA VAGGA – Bunga

    (44)Siapa yang akan menaklukkan dunia inibeserta yamaloka dan alam Dewa?siapa yang akan menyelami Dhamma yang telah dibabarkan dengan baik,seperti seorang perangkai bunga yang pandai memilih bunga? 

    (45)Seorang Sekha* akan menaklukkan dunia inibeserta yamaloka dan alam Dewa.Seorang Sekha akan menyelami Dhamma yang telah dibabarkan dengan baik,seperti seorang perangkai bunga yang pandai memilih bunga. 

    Dhammapada Atthakatha : 

    (44-45) Kisah Lima Ratus Bhikkhu

    Setelah mengikuti Sang Buddha ke suatu desa, lima ratus bhikkhu pulang kembali ke Vihara Jetavana. Sorenya, para bhikkhu tersebut membicarakan perjalanan yang baru dilakukan, khususnya kondisi desa tersebut, apakah datar atau berbukit-bukit, menanjak, tanahnya berlumpur, berpasir, merah atau hitam, dan sebagainya, Sang Buddha menghampiri mereka.

    Mengetahui apa yang mereka bicarakan, Sang Buddha berkata, "Bhikkhu, bumi yang engkau bicarakan ada di luar tubuh ini. Sesungguhnya lebih baik meneliti diri sendiri dan mempersiapkan diri untuk berlatih meditasi."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut

    “ko imaṃ paṭhaviṃ vijessati
    yamalokaṃ ca imaṃ sadevakaṃ?
    ko dhammapadaṃ sudesitaṃ
    kusalo puppham iva-ppacessati

    sekho paṭhaviṃ vijessati
    yamalokaṃ ca imaṃ sadevakaṃ
    sekho dhammapadaṃ sudesitaṃ
    kusalo puppham iva-ppacessati “

    Siapa yang akan menaklukkan dunia ini
    beserta yamaloka dan alam Dewa?
    siapa yang akan menyelami Dhamma yang telah dibabarkan dengan baik,
    seperti seorang perangkai bunga yang pandai memilih bunga?

    Seorang Sekha akan menaklukkan dunia ini
    beserta yamaloka dan alam Dewa.
    Seorang Sekha akan menyelami Dhamma yang telah dibabarkan dengan baik,
    seperti seorang perangkai bunga yang pandai memilih bunga.

    Sang Buddha menambahkan, bahwa dengan mengerti diri sendiri, seorang bhikkhu akan mengerti akan dunia ini, surga dan neraka, ia juga akan dapat merealisasikan Dhamma yang Agung, seperti rangkaian bunga yang dirangkai oleh seorang ahli merangkai bunga.

    Lima ratus bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

    --------------------
    Notes :
    * Sekha : seseorang yang mempraktekkan Dhamma dan sudah memasuki arus kesucian, tetapi belum mencapai arahat.