Tampilkan postingan dengan label 11.Jara Vagga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 11.Jara Vagga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juli 2013

(155-156) Kisah Putra Mahadhana

Dhammapada

  • BAB XI. JARA VAGGA – Usia Tua
     (155)Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci, ataupun mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda, akan merana seperti bangau tua yang berdiam di kolam yang tidak ada ikannya. 

    (156)Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci ataupun tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda, akan terbaring seperti busur panah yang rusak, menyesali masa lampaunya

    Dhammapada Atthakatha :     
      
    (155-156) Kisah Putra Mahadhana

    Putra Mahadhana tidak belajar ketika ia masih berusia muda, ketika menjelang dewasa dia menikah dengan putri orang kaya, seperti dia, isterinya juga tidak berpendidikan. Ketika orang tua kedua pihak meninggal dunia mereka mewarisi 80 nilai mata uang dari masing-masing pihak dan menjadi sangat kaya. Tetapi mereka berdua bodoh, hanya tahu menghabiskan uang dan tidak tahu bagaimana menyimpannya atau melipatgandakannya. Mereka hanya makan, minum dan bersenang-senang, menghabiskan uang mereka dengan sia-sia. Ketika mereka telah menghabiskan semua uangnya, mereka menjual ladang mereka dan kebun serta akhirnya rumah mereka. Kemudian mereka menjadi sangat miskin dan tidak berguna. Karena tidak tahu cara mencari nafkah, mereka harus mengemis.

    Suatu hari, Sang Buddha melihat anak orang kaya ini bersandar di dinding vihara, mengambil sisa makanan yang diberikan oleh para samanera. Melihat itu Sang Buddha tersenyum.

    Yang Ariya Ananda bertanya kepada Sang Buddha mengapa Beliau tersenyum.

    Sang Buddha menjawab, "Ananda, lihat putera orang kaya ini, ia telah menjalani kehidupan yang tak berguna, hidup berhura-hura tanpa tujuan. Apabila dia belajar menjaga kekayaannya pada tahap pertama kehidupannya, dia akan menjadi orang kaya yang teratas, atau apabila dia menjadi seorang bhikkhu, akan menjadi seorang arahat dan istrinya akan menjadi seorang anagami. Apabila dia belajar menjaga kekayaannya pada tahap kedua kehidupannya, dia akan menjadi orang kaya tingkat kedua; apabila dia menjadi seorang bhikkhu, akan menjadi seorang anagami dan istrinya menjadi seorang sakadagami.
    Apabila dia belajar menjaga kekayaannya pada tahap ketiga kehidupannya, dia akan menjadi orang kaya tingkat ketiga; atau apabila dia menjadi seorang bhikkhu, akan menjadi seorang sakadagami dan istrinya akan menjadi seorang sotapanna.
    Karena dia tidak berbuat apa-apa dalam tiga tahap kehidupannya dia kehilangan seluruh kekayaan duniawinya, dia juga kehilangan kesempatan mencapai Magga dan Phala (jalan dan hasil kesucian).

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

    "Acaritvā brahmacariyaṃ aladdhā yobbane dhanaṃ
    jiṇṇakoñcā va jhāyanti khīṇamacche va pallale.

    Acaritvā brahmacariyaṃ aladdhā yobbane dhanaṃ
    senti cāpātikhīṇā va purāṇāni anutthunaṃ."

    Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci
    ataupun tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda,
    akan merana seperti bangau tua
    yang berdiam di kolam yang tidak ada ikannya.

    Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci
    serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda,
    akan terbaring seperti busur panah yang rusak,
    menyesali masa lampaunya

(153-154) Kisah Mengenai "Kata-kata Kebahagiaan Sang Buddha"

Dhammapada

  • BAB XI. JARA VAGGA – Usia Tua

    (153)Melalui banyak kelahiran dalam samsara, aku mencari pembuat rumah (tubuh) ini yang belum dapat ditemukan (karena belum mencapai Penerangan Sempurna). Kelahiran yang berulang-ulang sungguh adalah penderitaan.

    (154)O, pembuat rumah (nafsu keinginan/tanha)! Kau telah, engkau telah terlihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi. Seluruh kerangkamu (noda batin) telah runtuh, atapmu (kebodohan) telah hancur. Batinku telah mencapai  mencapai keadaan tak bersyarat (Nibbana), tecapailah akhir daripada nafsu keinginan.


    Dhammapada Atthakatha :     

    (153-154) Kisah Mengenai "Kata-kata Kebahagiaan Sang Buddha"

    Dua syair ini (syair 153 dan 154), adalah ungkapan mendalam dan kebahagiaan agung yang dirasakan Sang Buddha pada saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Syair-syair ini diulang di Vihara Jetavana atas permintaan dari Yang Ariya Ananda.

    Pangeran Siddhatta, dari keluarga Gotama, anak dari Raja Suddhodana dan Ratu Maya dari kerajaan suku Sakya, meninggalkan keduniawian pada usia 29 tahun dan menjadi pertapa untuk mencari Kebenaran (Dhamma). Selama 6 tahun Beliau mengembara di lembah Gangga, menemui pemimpin-pemimpin agama yang terkenal untuk belajar doktrin dan metode mereka. Beliau hidup sangat sederhana dan secara ketat menjalani peraturan pertapaan yang keras; tetapi Beliau mendapatkan bahwa semua latihan itu tidak berdasar dan tidak bermanfaat.

    Beliau memutuskan untuk menemukan Kebenaran dengan caranya sendiri. Dengan menghindari dua jalan ekstrim (pemuasan kenikmatan yang berlebihan dan penyiksaan diri), Beliau menemukan ‘Jalan Tengah’ yang membawa menuju kebebasan mutlak, Nibbana.

    Jalan Tengah (Majjhimapatipada) ini adalah Jalan Mulia Berfaktor Delapan, yaitu : Pengertian Benar, Pikiran Benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencarian Benar, Daya Upaya Benar, Kesadaran Benar, dan Konsentrasi Benar.

    Pada suatu malam duduk di bawah pohon Bodhi, di tepi sungai Neranjara, Pertapa Siddhattha Gotama mencapai `Penerangan Sempurna` (Bodhi-nana atau Sabbannuta-nana) pada usia 35 tahun.

    Pada saat malam jaga pertama, Siddhattha mencapai kemampuan batin mengetahui kelahiran-kelahirannya-Nya sendiri yang lampau (Pubbenivasanussati-nana).
    Pada saat malam jaga kedua, Beliau mencapai kemampuan batin pengetahuan penglihatan tembus (Dibbacakkhu-nana).
    Kemudian pada malam jaga ketiga, Beliau memahami hukum sebab akibat yang saling bergantungan (Paticcasamuppada) dalam hal kemunculan (Anuloma) demikian pula pengakhiran (Patiloma).

    Menjelang fajar, Siddhattha Gotama dengan kemampuan akal-budinya, dan pandangannya yang terang mampu menembus pengetahuan `Empat Kebenaran Mulia`.

    Empat Kebenaran Mulia adalah :
    1. kebenaran mulia tentang penderitaan (Dukkha Ariya Sacca),
    2. kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan (Dukkha Samudaya Ariya Sacca),
    3. kebenaran mulia tentang akhir penderitaan (Dukkha Nirodha Ariya Sacca), dan
    4. kebenaran mulia tentang jalan menuju akhir penderitaan (Dukkha Nirodha Gamini Patipada Ariya Sacca).

    Tercapai juga dalam diri Beliau, dengan segala kemurniannya, pengetahuan tentang keberadaan `kebenaran mulia` (Sacca-nana), pengetahuan tentang perlakuan yang diharapkan terhadap `kebenaran mulia` itu (Kicca-nana) dan pengetahuan tentang telah dipenuhinya perlakuan yang diharapkan terhadap `kebenaran mulia` itu (Kata-nana), dengan demikian Beliau mencapai `Sabbannuta-nana` (Bodhi-nana) dari seorang Buddha. Sejak saat itu Beliau dikenal sebagai Buddha Gotama.

    Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa ketika Empat Kebenaran Mulia, dengan tiga aspek tersebut di atas (jadi keseluruhan ada 12 cara) telah benar-benar jelas bagi Beliau, barulah Sang Buddha mengumumkan kepada umat manusia, para dewa dan para brahma, bahwa beliau telah mencapai Penerangan Sempurna, dan menjadi seorang Buddha.

    Pada saat pencapaian tingkat ke-Buddha-an, Beliau membabarkan syair berikut ini:

    “Anekajātisaṃsaraṃ sandhāvissaṃ anibbisaṃ
    gahakārakaṃ gavesanto, dukkhā jāti punappunaṃ

    Gahakāraka diṭṭho si puna gehaṃ na kāhasi,
    sabbā ete phāsukā bhaggā gahakūṭaṃ visaṃkhitaṃ,
    visaṃkhāragataṃ cittaṃ taṇhānaṃ khayam ajjhagā.”

    Melalui banyak kelahiran dalam samsara, aku mencari pembuat rumah (tubuh) ini yang belum dapat ditemukan (karena belum mencapai Penerangan Sempurna). Kelahiran yang berulang-ulang sungguh adalah penderitaan.

    O, pembuat rumah (nafsu keinginan/tanha)! Engkau telah terlihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi.
    Seluruh kerangkamu (noda batin) telah runtuh, atapmu (kebodohan) telah hancur.
    Batinku telah mencapai  mencapai keadaan tak bersyarat (Nibbana), tercapailah akhir daripada nafsu keinginan.

    -------------
    Notes :
    Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, Sang Buddha memutar roda dhamma pertama kalinya, yaitu khotbah kepada 5 orang pertapa, beliau menjelaskan mengenai doktrin utama yaitu 4 Kebenaran Mulia, dan 8 Jalan Utama Beruas Delapan.

    Satu hal yang perlu diperhatikan baik-baik, dalam point kesatu, Kebenaran Mulia tentang Dukkha, Sang Buddha hanya menyatakan bahwa ada yang namanya Dukkha; yaitu lahir, sakit, tua, mati, kesedihan, berpisah dengan yang dicintai, dan berkumpul dengan yang tak disukai, tidak mendapat apa yang diinginkan, adalah dukkha.
    Sang Buddha tidak pernah mengatakan ‘hidup ini adalah dukkha’. Mohon tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan yang keliru. Jangan sampai kita salah mengerti dan berpikir hidup ini adalah penderitaan, salah-salah nanti terbawa jadi depresi. Karena pemahaman yang tidak tepat inilah orang menganggap agama Buddha pesimis, padahal tidak benar.

(152) Kisah Laludayi Thera

Dhammapada

  • BAB XI. JARA VAGGA – Usia Tua
      (152)Orang yang belajar sedikit akan menjadi tua seperti seekor sapi;dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak bertambah.

    Dhammapada Atthakatha :     

    (152) Kisah Laludayi Thera

    Laludayi adalah seorang bhikkhu yang lamban dalam berpikir dan pelamun. Walaupun telah berusaha keras, dia tidak pernah bisa mengatakan hal yang sesuai dengan situasi pada saat itu. Oleh karena itu, pada kesempatan yang gembira dan penuh harapan dia berbicara tentang kesedihan, dan pada kesempatan yang menyedihkan dia berbicara tentang kesenangan dan kebahagiaan. Selain itu, dia tidak pernah menyadari bahwa dia telah mengucapkan hal yang tidak tepat dalam situasi tertentu.

    Ketika diberitahu tentang hal ini, Sang Buddha berkata, "Orang seperti Laludayi, yang memiliki sedikit pengertian sama halnya seperti seekor lembu jantan."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

    Appassutāyaṃ puriso balivaddo va jīrati
    maṃsāni tassa vaḍḍhanti pañña tassa na vaḍḍhati

    Orang yang hanya belajar sedikit
    akan menjadi tua seperti seekor sapi;
    dagingnya bertambah
    tetapi kebijaksanaannya tidak bertambah.

(150) Kisah Rupananda Theri (Janapadakalyani)

Dhammapada

  • BAB XI. JARA VAGGA – Usia Tua
      

    (150)Kota (tubuh) ini terbuat dari tulang belulang yang dibungkus oleh daging dan darah. Di sinilah terdapat kelapukan dan kematian, kesombongan dan iri hati.


    Dhammapada Atthakatha :     

    (150) Kisah Rupananda Theri (Janapadakalyani)

    Janapadakalyani adalah puteri dari Pajapati Gotami, ibu tiri Pangeran Siddhattha. Karena sangat cantik Puteri Janapadakalyani dikenal dengan nama Rupananda. Dia menikah dengan Nanda, saudara sepupu Pangeran Siddhattha. Pada suatu hari dia merenung, "Kakak saya yang akan menjadi raja telah meninggalkan keduniawian menjadi bhikkhu dan telah mencapai ke-Buddha-an. Rahula, anak dari kakak saya, suami saya, ibu saya, mereka semua telah meninggalkan keduniawian untuk menjadi bhikkhu dan bhikkhuni, sekarang tinggal saya sendiri di sini!" Setelah merenung demikian dia pergi ke vihara untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhuni, bukan karena keyakinan tetapi hanya meniru orang lain dan karena merasa kesepian tinggal seorang diri.

    Setelah menjadi bhikkhuni, Rupananda sering mendengar bahwa Sang Buddha mengajarkan tentang ketidakkekalan, tidak memuaskan dan rapuhnya khanda* sehingga dia berpikir kalau dia bertemu dengan Sang Buddha pasti Beliau akan mencela kecantikannya, sehingga dia berusaha untuk menghindari perjumpaan dengan Sang Buddha. Akan tetapi bhikkhuni-bhikkhuni lain yang baru kembali dari vihara, selalu memuji Sang Buddha; akhirnya dia memutuskan untuk bertemu dengan Sang Buddha bersama para bhikkhuni.

    Sang Buddha melihat Rupananda dan berpikir, "Duri hanya dapat dikeluarkan dengan duri. Rupananda sangat melekat terhadap tubuhnya dan sangat bangga akan kecantikannya, dia harus meninggalkan kemelekatan dan kesombongan akan kecantikannya".

    Kemudian Sang Buddha dengan kekuatan iddhi menciptakan seorang anak gadis yang sangat cantik berusia kira-kira 16 tahun, duduk di dekatNya dan mengipasi Beliau. Anak gadis itu hanya dapat dilihat oleh Sang Buddha dan Rupananda. Ketika Rupananda melihat anak gadis tersebut, ia menyadari bahwa jika dibandingkan, ia seperti seekor gagak tua dan buruk dan gadis itu seperti seekor angsa putih yang cantik. Rupananda begitu mengagumi wajah anak gadis tersebut yang cantik jelita. Tetapi ketika Rupananda memperhatikan sungguh-sungguh, dia terkejut karena anak gadis tersebut bertambah tua berusia 20, terus menerus ia memperhatikan anak gadis yang berada di samping Sang Buddha itu bertambah tua dan menjadi sangat tua. Anak gadis itu berubah dari anak gadis muda, menjadi setengah baya, tua, dan sangat tua.

    Rupananda mengamati bahwa ketika muncul keadaan/rupa yang baru, yang lama lenyap, dan dia mulai menyadari adanya proses perubahan yang terus menerus dan kelapukan dalam tubuh jasmani. Dengan kesadaran ini, kemelekatan terhadap tubuhnya berkurang. Sementara itu, anak gadis dekat Sang Buddha tadi, telah berubah menjadi wanita jompo, yang tidak dapat mengontrol fungsi tubuhnya lagi dan terjatuh di antara kotorannya sendiri. Akhirnya wanita itu meninggal dunia, tubuhnya kembung, dari tubuhnya muncul belatung, cairan tubuh keluar dari sembilan lubang, burung gagak dan pemakan bangkai mencabik-cabik bangkai itu.

    Setelah melihat semua ini, Rupananda merenung, "Gadis muda itu menjadi tua dan jompo kemudian meninggal dunia di sini dihadapan mataku. Sama halnya dengan tubuhku akan menjadi tua dan rusak; akan merupakan sarang penyakit dan juga akan meninggal dunia." Kemudian Rupananda menyadari akan corak sebenarnya dari khanda (kelompok kehidupan) Pada saat itu Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan ketanpa-intian dari khandha dan Rupananda mencapai tingkat kesucian sotapatti.

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

    "Aṭṭhīnaṃ nagaraṃ kataṃ maṃsalohitalepanaṃ
    yattha jarā ca maccu ca māno makkho ca ohito."

    Kota (tubuh) ini terbuat dari tulang belulang
    yang dibungkus oleh daging dan darah.
    Di sinilah terdapat kelapukan dan kematian,
    kesombongan dan iri hati.

    Rupananda mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

    ----------------------------
    Notes

    *khanda (pali) = skandha (sanskrit) = aggregates (english) = kelompok/kumpulan.

    Ada 5 macam khanda yaitu Panca Khanda, yaitu terdiri dari :
    1. Rupa (badan jasmani)
    2. Nama (batin) :
    -       Viññana = Kesadaran.
    -       Sañña = Pencerapan.
    -       Sankhara = Pikiran, bentuk-bentuk mental
    -       Vedana = Perasaan.

    Kita tentu sudah tahu bahwa rupa tidak kekal dan selalu berubah.
    Sama seperti Rupa, 4 Nama Khanda diatas sifatnya juga tidak kekal dan selalu berubah.

    Dalam bahasa sehari-hari, demi kemudahan dan kepraktisan komunikasi, manusia menggunakan kata ‘AKU’  atau ‘KAMU’ untuk merujuk kepada batin dan jasmani. Namun karena keterkaitan panca khanda ini sangat erat, kita tidak bisa membedakannya, lalu menganggapnya merupakan SATU roh/jiwa dan terjebak didalam ilusi keakuan dan menggenggamnya erat-erat. Kita berpikir bahwa ada satu jiwa atau roh yang bersemayam di dalam tubuh kita, hal ini terutama terjadi pada umat buddha yang masih awam, atau umat yang beragama lain.

    Tetapi sesungguhnya dalam jasmani kita, tidak ada suatu atma/atta atau roh/jiwa yang kekal dan abadi. Inilah yang disebut Anatta (an = negasi/tiada/tanpa, atta = inti/jiwa/roh yang kekal dan abadi). Pada kenyataannya, batin terdiri dari 4 unsur tersebut di atas, dan tidak ada sesuatupun yang bisa disebut roh/jiwa.

    Dari kontaknya rupa (mis. alat indera; mata, telinga, dll) dengan kesadaran, kita dapat mencerap hal-hal yang kita dengar, lihat, cium, rasa, sentuh. Dari pencerapan ini langsung timbul bentuk-bentuk pikiran karena bercampur dengan hal-hal yang pernah kita alami, lalu timbullah perasaan (suka/tidak suka, sedih/gembira, marah/takut, netral dll). Dari sini berputar lagi kembali memberi masukan kepada kesadaran. Demikian berulang-ulang. Proses ini sangat cepat dalam hitungan sepersekian detik.
    **perlu diperhatikan, ada banyak ulasan mengenai pancakhanda dan hubungannya satu sama lain, disini saya hanya mengambil sebagian saja**

    Buddha mengajarkan kita untuk mengenali diri kita sendiri, untuk melihat diri kita ini seperti apa adanya. Sesungguhnya seperti apa kita ini? Cobalah renungkan dan perhatikan 4 nama khanda diatas dalam keseharian kita.
    Jika kita menyadari bahwa nama khanda ini sifatnya hanya sementara, timbul tenggelam, tidak kekal dan tanpa inti, datang dan pergi silih berganti; kita tidak terlalu terpengaruh olehnya, kita tidak terbawa arus. Dengan merenungkan hal diatas, ketika timbul berbagai macam perasaan yang tidak mengenakkan, kita tidak perlu terlalu hanyut atau histeris seperti pemain drama, karena sebentar kemudian perasaan itupun akan berganti.

    Kita tahu bahwa perasaan-perasaan timbul karena adanya bentuk-bentuk pikiran yang menjadi ‘bensin / bahan bakar’ nya, maka kita hindari menuang bensin ke dalam batin kita. Tidak perlu diingat-ingat terus, seperti memutar ulang film, tidak perlu dihayati dan dirasa-rasakan, tidak perlu dipelihara perasaan yang tidak mengenakkan itu.
    Tetapi bukan berarti ini mengabaikan permasalahan. Jika ada masalah tentu tetap harus diselesaikan, dan dengan kondisi batin yang tenang, tentunya akan lebih mudah menyelesaikan permasalahan itu.

    Mengenai kisah diatas, sumber lain menyebutkan bahwa Pajapati Gotami memiliki anak bernama Nanda (laki-laki) dan Rupananda/Sundari-Nanda (perempuan). Jadi Nanda adalah adik tiri pangeran Siddhartha. Bentuk badan dan raut muka Nanda sangat mirip dengan Sang Buddha, hingga banyak yang salah mengenali.  
    Nanda, pada pesta pernikahannya dengan Janapadakalyani, mengantarkan Sang Buddha kembali ke vihara dan akhirnya ditahbiskan menjadi bhikkhu.
    Janapadakalyani juga disebut Rupananda. Nampaknya ada 2 Rupananda, hingga timbul kerancuan kisah Rupananda/Nanda.
    Sundari-Nanda dan Janapadakalyani kedua-duanya juga akhirnya menjadi bikhhuni.

(149) Kisah Bhikkhu-Bhikkhu Adhimanika

Dhammapada

  • BAB XI. JARA VAGGA – Usia Tua

      (149)Bagaikan labu yang dibuang pada musim rontok, demikian pula halnya dengan tulang-tulang yang memutih ini. Kesenangan apakah yang didapat dari memandangnya?


    Dhammapada Atthakatha :     

    (149) Kisah Bhikkhu-bhikkhu Adhimanika

    Setelah lima ratus bhikkhu mendapatkan cara-cara bermeditasi dari Sang Buddha, mereka pergi ke hutan. Di sana mereka melatih meditasi dengan bersemangat dan rajin sehingga mencapai ''Penunggalan Kesadaran'' (jhana). Setelah mencapai jhana mereka berpikir bahwa mereka telah bebas dari hawa nafsu oleh karena itu mereka telah mencapai tingkat kesucian arahat. Kenyataannya, mereka hanya menilai dirinya sendiri berlebihan. Mereka pergi menjumpai Sang Buddha dengan maksud untuk memberitahukan tentang pencapaian ke-arahat-an mereka.

    Ketika mereka tiba di gerbang luar vihara, Sang Buddha berkata kepada Y.A. Ananda, "Bhikkhu-bhikkhu itu tidak akan mendapat banyak manfaat apabila menemui Tathagatha sekarang, biarkan mereka pergi ke kuburan sekarang, baru kemudian menemui Tathagatha sesudahnya."

    Kemudian Ananda memberitahukan pesan Sang Buddha kepada para bhikkhu, dan mereka merenung, "Sang Buddha mengetahui segalanya, Beliau pasti mempunyai beberapa alasan agar kita pergi ke kuburan terlebih dahulu." Maka pergilah para bhikkhu itu ke kuburan.

    Disana, mereka melihat banyak mayat yang telah membusuk, dan mereka dapat melihatnya hanya sebagai kerangka, dan tulang belulang. Tetapi ketika mereka melihat mayat-mayat yang baru, mereka menyadari bahwa mereka masih memiliki hawa nafsu.

    Sang Buddha dengan iddhi / kemampuan batin luar biasa Beliau melihat mereka dan muncul di hadapan para bhikkhu, kemudian Beliau berkata, "Para bhikkhu! Dengan melihat tulang belulang yang telah memutih, apakah pantas mempunyai hawa nafsu dalam dirimu?"

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

    "Yān’ imāni apatthāni alāpūn’ eva sārade
    kāpotakāni aṭṭhini tāni disvāna kā rati."

    Bagaikan labu yang dibuang pada musim gugur,
    demikian pula halnya dengan tulang-tulang yang memutih ini.
    Kesenangan apakah yang didapat dari memandangnya?

    Lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

(148) Kisah Uttara Theri

Dhammapada

BAB XI. JARA VAGGA – Usia Tua
  

(148)Tubuh ini benar-benar rapuh,sarang penyakit dan mudah membusuk.Tumpukan yang menjijikkan ini akan menjadi hancurSesungguhnya, kehidupan berakhir dengan kematian.


Dhammapada Atthakatha :     

(148) Kisah Uttara Theri

Uttara Theri yang berusia 120 tahun, pada suatu hari ia berjalan kembali dari berpindapatta. Ia bertemu dengan seorang bhikkhu, dan memohon bhikkhu itu untuk menerima persembahan dana makanan darinya. Tanpa pertimbangan bhikkhu tersebut menerima semua dana makanannya, sehingga Uttara Theri tidak makan hari itu. Hal yang sama terjadi dua hari berikutnya, sehingga selama tiga hari berturut-turut Uttara Theri tidak makan dan tubuhnya sangat lemas.

Pada hari keempat, ketika ia dalam perjalanan perpindapatta, ia bertemu dengan Sang Buddha di jalan yang sempit. Ia memberi hormat kepada Beliau, dan mundur selangkah untuk memberi jalan, secara tidak sengaja ia menginjak ujung jubahnya sendiri dan terjatuh ke tanah dan kepalanya terluka.

Sang Buddha mendekati Uttara dan berkata, "Tubuhmu telah menjadi sangat tua dan lemah,  dan sebentar lagi hancur dan binasa."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Parijiṇṇaṃ idaṃ rūpaṃ roganiḍḍaṃ pabhaṅguṇaṃ
bhijjati pūtisandeho maraṇantaṃ hi jīvitaṃ."

Tubuh ini benar-benar rapuh,
sarang penyakit dan mudah membusuk.
Tumpukan yang menjijikkan ini akan menjadi hancur
Sesungguhnya, kehidupan berakhir dengan kematian.


Pada akhir khotbah itu, Uttara Theri mencapai tingkat kesucian sotapatti.

(147) Kisah Sirima

Dhammapada

  • BAB XI. JARA VAGGA – Usia Tua

    (147)Pandanglah tubuh yang dihias indah ini,Tumpukan luka, terdiri dari rangkaian tulang,berpenyakit serta memerlukan banyak perawatan.Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya. 

    Dhammapada Atthakatha :     

    (147) Kisah Sirima

    Saat itu di Rajagaha tinggal seorang pelacur yang sangat cantik bernama Sirima. Setiap hari Sirima berdana makanan kepada delapan bhikkhu. Suatu ketika, salah seorang dari bhikkhu-bhikkhu itu mengatakan kepada bhikkhu lain betapa cantiknya Sirima dan bahwa setiap hari Sirima mempersembahkan dana makanan kepada para bhikkhu.

    Mendengar hal ini, seorang bhikkhu muda langsung jatuh cinta pada Sirima meskipun belum pernah melihat Sirima. Hari berikutnya bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikku yang lain pergi ke rumah Sirima untuk menerima dana makanan. Sirima sedang sakit, tetapi karena ia ingin memberi penghormatan kepada para bhikkhu, ia digotong ke tempat para bhikkhu berada.

    Begitu bhikkhu muda tersebut melihat Sirima lalu bhikkhu muda berpikir, "Meskipun ia sedang sakit, ia sangat cantik!" , dan Bhikkhu muda itu tersebut timbul nafsu yang kuat terhadapnya.

    Larut malam itu, Sirima meninggal dunia. Raja Bimbisara pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahukan bahwa Sirima, saudara perempuan Jivaka, telah meninggal dunia. Sang Buddha menyuruh Raja Bimbisara membawa jenasah Sirima kekuburan dan menyimpannya di sana selama 3 hari tanpa dikubur, tetapi hendaknya dilindungi dari burung gagak dan burung hering.

    Raja melakukan perintah Sang Buddha. Pada hari ke 4 jenasah Sirima yang cantik sudah tidak lagi cantik dan menarik. Jenasah itu mulai membengkak dan ulat keluar dari dari 9 lubang.

    Hari itu Sang Buddha bersama para bhikkhu pergi ke kuburan untuk melihat jenasah Sirima. Raja Bimbisara juga pergi bersama pengikutnya.

    Bhikkhu muda yang telah tergila-gila kepada Sirima tidak mengetahui bahwa Sirima telah meninggal dunia. Ketika ia mengetahui Sang Buddha dan para bhikkhu akan pergi melihat Sirima, maka iapun turut serta bersama mereka. Setelah mereka tiba di kuburan, Sang Buddha, para bhikkhu, raja dan pengikutnya mengelilingi jenasah Sirima.

    Kemudian Sang Buddha meminta kepada Raja Bimbisara untuk mengumumkan kepada penduduk yang hadir, siapa yang menginginkan tubuh Sirima 1 malam boleh  membayar 1000 keping, akan tetapi tak seorangpun yang bersedia mengambilnya dengan membayar 1000 keping, atau 500, atau 250, ataupun cuma-cuma.

    Kemudian Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, lihat Sirima! Ketika ia masih hidup, banyak sekali orang yang ingin membayar 1000 keping untuk menghabiskan 1 malam bersamanya, tetapi sekarang tak seorangpun yang ingin mengambil tubuhnya walaupun dengan cuma-cuma. Tubuh manusia sesungguhnya subyek dari kelapukan dan kehancuran."

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

    "Passa cittakataṃ bimbaṃ arukāyaṃ samussitaṃ
    āturaṃ bahusaṃkappaṃ yassa n’ atthi dhuvaṃ ṭhiti."

    Pandanglah tubuh yang dihias indah ini,
    Tumpukan luka, terdiri dari rangkaian tulang,
    berpenyakit serta memerlukan banyak perawatan.
    Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya.

    Bhikkhu muda itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.

    ----------------------
    Notes :

    Sirima mencapai tingkat kesucian sotapatti ketika ia berada di rumah Uttara (ditunggu ya ceritanya di kisah ke 223).
    Sejak Sirima menjadi sotapanna, ia mengundang 8 bhikkhu untuk menerima dana makanan setiap hari di rumahnya.

    Setelah kematiannya, Sirima lahir kembali di alam dewa Yama sebagai istri dari Suyama, pemimpin di alam dewa Yama. Perlu diketahui, kelahiran di alam dewa adalah kelahiran secara spontan (opapatika yoni), tidak melalui proses dari bayi/telur dll, langsung dewasa.
    Ketika Sang Buddha berkhotbah di kuburan itu, Sirima hadir dengan 500 kereta surgawi beserta pengiringnya. Setelah Sang Buddha membabarkan Kayavicchandanika Sutta (Vijaya Sutta), Sirima mencapai tingkat kesucian Anagami.

    Di kitab Vimanavatthu (pp.78f., 86) juga menceritakan kejadian yang sama, dengan tambahan bahwa Vangisa Thera juga hadir disana, dan setelah mendapat persetujuan dari Sang Buddha, beliau bertanya kepada Sirima dan menyuruhnya mengungkapkan jati dirinya. Tetapi disini dikatakan Sirima lahir di alam Nimmanarati, dan tidak disebutkan ia mencapai Anagami, sementara bhikkhu muda tadi disebutkan mencapai tingkat kesucian Arahat.

    Mungkin sebagian orang berpikir kenapa mayat Sirima diperlakukan seperti itu, seperti kurang hormat kepada yang telah meninggal. Ini adalah pemikiran umat awam yang tidak mengerti, yang masih menggenggam erat tubuh jasmani.
    Bayangkan kalau kita berada di posisi para bhikkhu/arahat/Buddha yang dapat melihat kemana perginya Sirima. Jika kita dapat melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Sirima telah lahir kembali, dengan tubuh surgawi yang bahkan jauh lebih megah, hormat atau tidak hormat kepada mayat itu sudah tidak begitu relevan lagi.
    Ibarat kita punya ular kesayangan yang sudah ganti kulit, atau ulat/kepompong yang telah menjadi kupu-kupu, tentunya perasaan kita terhadap kulit yang lama / kepompong yang kosong yang dicampakkan begitu saja ya biasa-biasa saja.

    Dalam 40 macam kasina / obyek meditasi, termasuk di dalamnya adalah mayat (10 jenis mayat) yang disebut Asubha, dimana kasina ini sangat cocok untuk orang yang penuh nafsu. Contohnya dalam kisah di atas, si bhikkhu muda tersebut.

(146) Kisah Teman-teman Visakha

Dhammapada

BAB XI. JARA VAGGA – Usia Tua

 (146)Mengapa tertawa, mengapa bergembira padahal dunia ini selalu terbakar?Dalam kegelapan, tidakkan engkau ingin mencari terang? 

Dhammapada Atthakatha :     

(146) Kisah Teman-teman Visakha

Terdapat 500 orang pria dari Savatthi, mereka mengharapkan istri-istrinya menjadi orang yang murah hati, baik hati dan bersusila seperti Visakha. Kelima-ratus pria tersebut mengirim para istrinya kepada Visakha agar menjadi teman dekat Visakha. Pada suatu perayaan mabuk-mabukan yang berlangsung selama 7 hari, istri-istri tersebut mengambil semua minuman keras yang ditinggalkan suami mereka dan meminumnya tanpa diketahui oleh Visakha. Karena perbuatan yang tidak baik itu, mereka dipukuli oleh suami mereka. Pada kejadian lainnya, dengan mengatakan bahwa mereka hendak mendengarkan khotbah Sang Buddha, mereka memohon agar Visakha membawa mereka kepada Sang Buddha, tetapi secara diam-diam mereka masing-masing membawa sebotol kecil minuman keras yang disembunyikan dalam bajunya.

Pada saat tiba di vihara, mereka meminum semua minuman keras yang mereka bawa dan membuang botol-botol tersebut. Visakha memohon kepada Sang Buddha untuk mengajarkan Dhamma kepada mereka. Pada saat itu, para wanita sudah mulai mabuk, berasa ingin bernyanyi dan menari. Mara mengambil kesempatan membuat mereka semakin berani dan tidak tahu malu untuk bernyanyi, menari, bertepuk tangan, melompat-lompat di dalam vihara. Sang Buddha melihat campur tangan Mara yang membuat tingkah laku yang memalukan wanita-wanita tersebut. Sang Buddha berkata pada diri sendiri, "Mara tidak boleh diberi kesempatan". Kemudian Sang Buddha memancarkan sinar biru gelap sehingga ruangan menjadi gelap; wanita-wanita tersebut ketakutan dan mulai sadar. Kemudian Sang Buddha menghilang dari tempat duduknya dan berdiri di atas Gunung Meru, dan dari sana Beliau memancarkan sinar putih yang menerangi langit bagaikan diterangi seribu bulan. Setelah itu Sang Buddha berkata kepada kelima ratus wanita tersebut, "Ibu-ibu sekalian, tidak seharusnya kamu datang ke vihara dalam keadaan batin tidak sadar. Karena kalian telah lalai, Mara mendapat kesempatan membuat kalian berkelakuan yang memalukan, tertawa, menyanyi keras-keras dalam vihara. Sekarang berusahalah untuk memadamkan api hawa nafsu yang terdapat dalam diri kalian."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Ko nu hāso kim ānando niccaṃ pajjalite sati,
andhakārena onaddhā padīpaṃ na gavesatha."

Mengapa tertawa, mengapa bergembira padahal dunia ini selalu terbakar?
Dalam kegelapan, tidakkan engkau ingin mencari terang?

Lima ratus wanita itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.