Tampilkan postingan dengan label 01. Yamaka Vagga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 01. Yamaka Vagga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juli 2013

(6) Kisah Pertengkaran di Kosambi

Dhammapada

  • BAB I. YAMAKA VAGGA – Syair Berpasangan
      

    (6)
    Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa;
    tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini akan segera mengakhiri semua pertengkaran.
     

    Dhammapada Atthakatha :

    (6) Kisah Pertengkaran di Kosambi

    Suatu waktu, bhikkhu-bhikkhu di Kosambi terbentuk menjadi dua kelompok. Kelompok yang satu pengikut guru ahli Vinaya, sedang kelompok lain pengikut guru ahli Dhamma. Mereka sering berselisih paham sehingga menyebabkan pertengkaran. Mereka juga tidak mengacuhkan nasehat Sang Buddha. Berkali-kali Sang Buddha menasehati mereka, tetapi tak berhasil, walaupun Sang Buddha juga mengetahui bahwa pada akhirnya mereka akan menyadari kesalahannya. Maka Sang Buddha meninggalkan mereka dan menghabiskan masa vassa-Nya sendirian di hutan Rakkhita dekat Palileyyaka. Di sana Sang Buddha dilayani oleh gajah Palileyya. Umat di Kosambi kecewa dengan kepergian Sang Buddha. Mendengar alasan kepergian Sang Buddha, mereka menolak memberikan kebutuhan hidup para bhikkhu di Kosambi. Karena hampir tak ada umat yang menyokong kebutuhan para bhikkhu, mereka hidup menderita. Akhirnya mereka menyadari kesalahan mereka, dan menjadi rukun kembali seperti sebelumnya. Namun, umat tetap tidak memperlakukan mereka sebaik seperti semula, sebelum para bhikkhu mengakui kesalahan mereka di hadapan Sang Buddha. Tetapi, Sang Buddha berada jauh dari mereka dan waktu itu masih pada pertengahan vassa. Terpaksalah para bhikkhu menghabiskan vassa mereka dengan mengalami banyak penderitaan. Di akhir masa vassa, Yang Ariya Ananda bersama banyak bhikkhu lainnya pergi menemui Sang Buddha, menyampaikan pesan Anathapindika serta para umat yang memohon Sang Buddha agar pulang kembali. Demikianlah. Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana di Savatthi. Di hadapan Beliau para bhikkhu berlutut dan mengakui kesalahan mereka. Sang Buddha mengingatkan, bahwa pada suatu saat mereka semua pasti mengalami kematian, oleh karena itu mereka harus berhenti bertengkar dan jangan berlaku seolah-olah mereka tidak akan pernah mati. Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini : 

    "Pare ca na vijānanti: “mayam ettha yamāmase”ye ca tattha vijānanti tato sammanti medhagā." 

    Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa,dalam pertengkaran mereka akan binasa;tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini;akan segera mengakhiri semua pertengkaran. 

    Semua bhikkhu mencapai tingkat kesucian sotapatti*, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.  

    -----------------------------------

    Notes :

    Ada 4 macam tingkat kesucian :

    1. sotapatti (pemasuk arus - hanya akan ada 7 kelahiran lagi baginya, orangnya disebut sotapanna, seorang sotapanna tidak akan jatuh ke alam rendah),

    2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia),

    3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa), dan

    4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga)

(5) Kisah Kalayakkhini

Dhammapada


BAB I. YAMAKA VAGGA – Syair Berpasangan

  • (5)Kebencian tak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian.Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, inilah satu hukum abadi.


    Dhammapada Atthakatha :

    (5) Kisah Kalayakkhini

    Ada seorang laki-laki perumah tangga mempunyai istri yang mandul. Karena merasa mandul dan takut diceraikan oleh suaminya, ia menganjurkan suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain yang dipilih olehnya sendiri. Suaminya menyetujui dan tak berapa lama kemudian isteri muda itu mengandung.

    Ketika isteri mandul itu mengetahui bahwa madunya hamil, ia menjadi tidak senang. Dikirimkannya makanan yang telah diberi racun, sehingga isteri muda itu keguguran. Demikian pula pada kehamilan yang kedua. Pada kehamilannya yang ketiga, isteri muda itu tidak memberi tahu kepada isteri tua. Karena kondisi fisiknya kehamilan itu diketahui juga oleh isteri tua. Berbagai cara dicoba oleh isteri tua itu agar kandungan madunya itu gugur lagi, yang akhirnya menyebabkan isteri muda itu meninggal pada saat persalinan. Sebelum meninggal, wanita malang itu dengan hati yang dipenuhi kebencian bersumpah untuk membalas dendam kepada isteri tua.

    Maka permusuhan itu pun dimulai.

    Pada kelahiran berikutnya, isteri tua dan isteri muda tersebut terlahir sebagai seekor ayam betina dan seekor kucing. Kemudian terlahir kembali sebagai seekor macan tutul dan seekor rusa betina, dan akhirnya terlahir sebagai seorang wanita perumah tangga di kota Savatthi dan seorang yakkhini (yakkha perempuan) yang bernama Kali.

    Suatu hari Kalayakkhini sedang mengejar wanita tersebut dengan bayinya. Ketika wanita itu mendengar bahwa Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma di Vihara Jetavana, ia berlari ke sana dan meletakkan bayinya di kaki Sang Buddha sambil memohon perlindungan. Sedangkan yakkhini itu tertahan di gerbang vihara oleh dewa penjaga vihara, tetapi kemudian dipanggil masuk. Kemudian wanita itu  dan yakkhini tersebut diberi nasehat oleh Sang Buddha.

    Sang Buddha menceritakan asal mula permusuhan mereka pada kehidupan lampau, yaitu sebagai seorang isteri tua dan isteri muda dari seorang suami, sebagai seekor ayam betina dan seekor kucing, sebagai seekor macan tutul dan seekor rusa betina. Mereka dibuat menyadari bahwa kebencian hanya dapat menyebabkan kebencian yang makin berlarut-larut, tetapi kebencian akan berakhir melalui persahabatan, kasih sayang, saling pengertian, dan niat baik.

    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair ke berikut ini:

    "Na hi verena verāni sammant’ idha kudācana
    averena ca sammanti, esa dhammo sanantano."

    Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian.
    Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, inilah satu hukum abadi.

    Kedua wanita itu akhirnya menyadari kesalahan mereka, keduanya berdamai, dan permusuhan panjang itu berakhir.

    Sang Buddha kemudian meminta kepada wanita itu untuk menyerahkan anaknya untuk digendong yakkhini itu. Takut akan keselamatan anaknya, wanita itu ragu-ragu. Tetapi, karena keyakinannya yang kuat terhadap Sang Buddha ia segera menyerahkan anaknya kepada peri.

    Yakkhini menerima anak itu dengan hangat. Setelah mencium dan membelai anak itu dengan penuh kasih sayang bagaikan kepada anaknya sendiri, anak itupun diserahkan kembali kepada ibunya.

    Demikianlah, pada akhirnya mereka berdua hidup rukun dan saling mengasihi.

    ---------------
    Notes :

    * Yakkhini atau yakkhi = yakkha perempuan.

    Yakkha (Pali) = yaksha (Sanskrit), 夜叉 yè chā (Chinese), Yasha (Japanese), ba-lu (Burmese), gnod sbyin (Tibetan).

    Yakkha termasuk dalam kategori alam dewa Catummaharajika / alam 4 Raja Dewa (catur = 4, maharaja = raja besar)
    Yakkha bermacam-macam tabiatnya, ada yang berperangai buruk dan jahat dan suka mengganggu manusia, ada pula yang berperangai baik dan suka menolong manusia, bahkan mengabulkan permintaan. Untuk paritta perlindungan terhadap yakkha jahat kalau pergi ke hutan-hutan, bacalah Atanatiya Sutta / Atanatiya Paritta.
    Tidak semua yakkha merupakan pengikut Sang Buddha. Yakkha juga memiliki kemampuan gaib, seperti menyalin rupa, dll. Yakkha juga memiliki berbagai tingkat, ada yakkha penasehat raja, dll. Mereka menguasai/menjaga/tinggal di danau, sungai, pohon, dll.

    Yakkha-yakkha ini dipimpin oleh salah satu dari 4 Raja Dewa dari alam Catummaharajika, yaitu Raja Vessavana (Vaisravana/Kuvera).

    Cãtummahãrãjika Bhumi (alam 4 raja dewa (四天王 Sì Tiānwáng)) adalah alam dewa tingkat paling rendah dari 6 alam dewa yang ada. 4 Raja Dewa terdiri dari :
    - Dhatarattha : raja dewa yang memimpin bagian/arah timur, memimpin para gandhabba (dewa musisi).
    - Virulhaka : raja dewa yang memimpin bagian/arah selatan, memimpin para kumbhanda (penjaga hutan, gunung, dan harta karun yang tersembunyi).
    - Virupakkha : raja dewa yang memimpin bagian/arah barat, memimpin para naga.
    - Vessavana/Kuvera : raja dewa yang memimpin bagian/arah utara, memimpin para yakkha.

    Catummaharajika-bhumi juga sering dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan tempat tinggalnya, yaitu :
    • Bhumamattha Devata yaitu para dewa yg berdiam di atas tanah (di bumi, gunung, sungai, laut, rumah, vihara, dll)
    • Rukakkhattha Devata yaitu para dewa yg berdiam di atas pohon
    • Akasattha Devata yaitu para dewa yg berdiam di angkasa

    Raja Bimbisara dari kerajaan Magadha, setelah kematiannya dilahirkan kembali menjadi Yakkha, bernama Janavasabha, dibawah pimpinan Raja Vessavana.

(3-4) Kisah Tissa Thera

Dhammapada            BAB I. YAMAKA VAGGA – Syair Berpasangan 

 (3).
"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya."
Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir.

(4).
"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya."
Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir.


Dhammapada Atthakatha
(3-4) Kisah Tissa Thera
  • Tissa adalah putera kakak dari ayah Pangeran Siddhattha. Ia menjadi bikkhu pada usia yang telah lanjut, dan suatu saat tinggal bersama-sama Sang Buddha. Walau baru beberapa tahun menjalani kebhikkhuannya, ia bertingkah laku seperti bhikkhu senior dan senang mendapat penghormatan serta pelayanan dari bhikkhu-bhikkhu yang berkunjung kepada Sang Buddha. Sebagai bhikkhu yunior, ia tidak melaksanakan semua kewajibannya, di samping itu ia juga sering bertengkar dengan bhikkhu-bhikkhu muda lainnya.
    Suatu ketika seorang bhikkhu muda menegur kelakuannya. Hal itu membuat bhikkhu Tissa sangat kecewa dan sedih, dan kemudian ia melaporkan hal itu kepada Sang Buddha. Bhikkhu-bhikkhu lain yang mengetahui permasalahan tersebut, mengikutinya untuk memberikan keterangan yang benar kepada Sang Buddha jika dibutuhkan.

    Sang Buddha, yang telah mengetahui kelakuan bhikkhu Tissa menasehatinya agar ia mau mengubah kelakuannya, tidak memiliki pikiran membenci.

    Sang Buddha juga mengatakan bahwa bukan pada kehidupan kini saja bhikkhu Tissa mempunyai watak keras kepala, juga pada kehidupan sebelumnya. Bhikkhu Tissa pernah terlahir sebagai seorang pertapa yang keras kepala bernama Devala. Karena suatu kesalahpahaman, ia mencerca seorang pertapa suci. Meskipun raja ikut campur tangan dengan memintakan ampun kepada pertapa suci itu, Devala tetap berkeras kepala dan menolak untuk melakukannya. Hanya dengan paksaan dan tekanan dari raja, Devala barulah mau meminta ampun kepada pertapa suci itu.

    Pada akhir wejangannya Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

    “Akkocchi maṃ avadhi maṃ ajini maṃ ahāsi me
    ye taṃ upanayhanti veraṃ tesaṃ na sammati.

    Akkocchi maṃ avadhi maṃ ajini maṃ ahāsi me
    ye taṃ na upanayhanti veraṃ tes’ūpasammati.”

    "Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir.

    "Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir.

(2) Kisah Matthakundali

Dhammapada                               BAB I. YAMAKA VAGGA – Syair Berpasangan

 (2)

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.   

 Dhammapada Atthakatha : 

  •  (2) Kisah Matthakundali 


    Seorang brahmana bernama Adinnapubbaka mempunyai anak tunggal yang amat dicintai dan disayangi bernama Mattakundali. Sayang, Adinnapubbaka adalah seorang kikir dan tidak pernah memberikan sesuatu untuk orang lain. Bahkan perhiasan emas untuk anak tunggalnya dikerjakan sendiri demi menghemat upah yang harus diberikan kepada tukang emas.

    Suatu hari, anaknya jatuh sakit, ia tidak mengundang tabib segera, hingga akhirnya sudah  terlambat. Ketika menyadari anaknya telah mendekati ajal, segera ia membawa anaknya keluar rumah dan dibaringkan di beranda, sehingga orang-orang yang berkunjung ke rumahnya tidak melihat harta miliknya di dalam rumah.

    Sebagaimana biasanya, di waktu pagi sekali, Sang Buddha bermeditasi. Setelah selesai, dengan mata keBuddhaan Beliau melihat melihat ke seluruh penjuru, barangkali ada makhluk yang memerlukan pertolongan. Sang Buddha melihat Mattakundali sedang berbaring sekarat di beranda. Beliau merasa bahwa anak itu memerlukan pertolongannya.

    Setelah memakai jubahnya, Sang Buddha memasuki kota Savatthi untuk berpindapatta. Akhirnya Beliau tiba di rumah brahmana Adinnapubbaka. Beliau berdiri di depan pintu rumah dan memperhatikan Matthakundali. Rupanya Matthakundali tidak sadar sedang diperhatikan. Kemudian Sang Buddha memancarkan sinar dari tubuh-nya, sehingga mengundang perhatian Matthakundali, brahmana muda.

    Ketika brahmana muda melihat sang Buddha, timbullah keyakinan yang kuat dalam batinnya. Setelah Sang Buddha pergi, ia meninggal dunia dengan hati yang penuh keyakinan terhadap Sang Buddha dan terlahir kembali di alam surga Tavatimsa.

    Dari kediamannya di surga, Matthakundali melihat ayahnya berduka-cita atas dirinya di tempat kremasi. Ia merasa iba. Kemudian ia menampakkan dirinya sebagaimana dahulu sebelum ia meninggal, dan memberitahu ayahnya bahwa ia telah terlahir di alam surga Tavatimsa karena keyakinannya kepada Sang Buddha. Maka ia menganjurkan ayahnya mengundang dan berdana makanan kepada sang Buddha.

    Brahmana Adinnapubbaka mengundang Sang Buddha untuk menerima dana makanan. Selesai makan, ia bertanya, "Bhante, apakah seseorang dapat, atau tidak dapat, terlahir di alam surga; hanya karena berkeyakinan terhadap Buddha tanpa berdana dan tanpa melaksanakan moral (sila)?"

    Sang Buddha tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kemudian Beliau memanggil dewa Matthakundali agar menampakkan dirinya. Matthakundali segera menampakkan diri, tubuhnya dihiasi dengan perhiasan surgawi, dan menceritakan kepada orang tua dan sanak keluarganya yang hadir, bagaimana ia dapat terlahir di alam surga Tavatimsa. Orang-orang yang memperhatikan dewa tersebut menjadi kagum, bahwa anak brahmana Adinnapubbaka mendapatkan kemuliaan hanya dengan keyakinan terhadap Sang Buddha.

    Pertemuan diakhiri oleh Sang Buddha dengan membabarkan syair kedua berikut ini:

     "Manopubbaṅgamā dhammā manoseṭṭhā manomayā manasā ce pasannena bhāsatī vā karoti vā tato naṃ sukkham anveti chāyā va anapāyinī." 

    Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.


    Pada akhir kotbah Dhamma itu, Mattakundali dan Adinnapubbaka langsung mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kelak, Adinnapubbaka mendanakan hampir semua kekayaannya bagi kepentingan Dhamma.

    -------------------------------
    Notes :

    Ada 4 macam tingkat kesucian :
    1. sotapanna (pemasuk arus - hanya akan ada 7 kelahiran lagi baginya, dan seorang sotapanna tidak akan jatuh ke alam rendah),
    2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia),
    3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa), dan
    4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga)